Senin, 18 Juli 2016

Harimau Yang Rakus



Suatu hari dipinggir sungai didalam hutan harimau melihat seekor kelinci hendak dimangsa oleh kawanan buaya. Lalu dengan sigap harimau menyelemakan kelinci tersebut. Kawanan buaya berenang menjauh, karena buruan mereka telah dirampas oleh harimau. Harimau terkenal sebagai raja hutan yang ditakuti oleh seluruh hewan-hewan disana.

"Ha ha ha... akhirnya kudapatkan juga santapan untuk malam ini" gumam harimau. Ternyata harimau tidak tulus hati menyelamatkan kelinci. Dia juga berfikir sama dengan kawanan buaya tadi, ingin memangsa kelinci tersebut. Tak lama kelincipun tersadar ari pingsannya, dan sangat terkejut melihat ada seekor harimau dihadapannya.Kelinci yang awalnya ketakutan melihat harimau malah langsung mengucapkan terima kasih. 

"Terima kasih harimau, karena kau telah menolongku dari ancaman buaya-buaya tadi", kata kelinci. "dan harimau, maukah kau ku ajak bertemu dengan teman-temanku?, ada kancil, kerbau, gajah, rusa, monyet, dan banyak lagi," sambung kelinci pula.

Niat licik harimau pun muncul, dia bergumam dalam hati "lebih baik kuurungkan saja niatku untuk memangsa kelinci ini, kecil, dagingnya juga sedikit. Lebih baik aku ikut saja bertemu dengan teman-temannya yang jauh lebih besar, kenyanglah perutku nanti..." Lalu harimau menjawab "baiklah kelinci, aku akan ikut denganmu, dan katakan pada teman-temanmu nanti bahwa dihutan ini ada pemburu. Tapi jangan khawatir, aku akan melindungi kalian dari pemburu itu".

Kemudian pergilah mereka masuk kedalam hutan. Dan disana kelinci menjelaskan pada teman-temannyabahwa harimau telah menyelamatkannya dari serbuan banyak buaya, dan dia juga mengataka pada teman-temannya bahwa harimau akan melindungi mereka dari para pemburu yang ada dihutan ini. Semua teman kelincipun percaya, kecuali kancil, ia menaruh curiga pada harimau.

Malam harinya ketika semua sudah tertidur, harimau pelan-pelan membangunkan rusa. Dia mengajak rusa menjauh dari kawanan mereka, dan mengatakan pada rusa kalau pemburu sudah dekat, dan harus segera diserang. Setelah jauh meraka berjalan, niat buruk harimau diketahui rusa, dia mulai merasa takut. Dan benar saja, saat itu harimau telah siaga untuk menerkamnya. Dan.... happ, dalam satu terkaman saja tamatlah riwayat rusa.

Rupanya saat itu kelinci mengikuti mereka dan melihat kejadian itu. Dia berlari ketakutan, dan harimau pun mengejarnya hingga sampai ditepi jurang. Karena takutnya pada harimau, kelinci pun terjatuh kedalam jurang yang mengalir air deras dibawahnya.Harimau pun kembali pada kawanannya, dan mengatakan kalau rusa dan kelinci telah ditangkap oleh pemburu. 

Kemudian esok harinya harimau mengajak kerbau ikut bersamanya untuk menghadapi pemburu, sedangkan kancil, gajah dan monyet kearah yang lainnya. Tiba-tiba kawanan kancil melihat kelinci terhanyut dipinggiran sungai. Mereka pun menyelamatkannya, dan kelinci mengatakn kalau harimau hanya berbohong ingin menyelamatkan mereka dari pemburu, justru harimau ingin memangsa mereka satu persatu.

Kemudian kancil pun mengajak semua hewan itu kearah jalan yang tadi dilewati harimau dan kerbau. Dan benar saja harimau sudah bersiap-siap untuk menerkam kerbau dari belakang. Namun kancil dan kawanan lainnya dengan cepat dan sigap mendorong harimau hingga terjatuh kedalam jurang.

Begitulah akhir yang menggenaskan bagi harimau yang rakus.

By: Nana. R
Disadur dari kisah Pada Zaman Dahulu

Kancil dan Buaya



Pada suatu hari seekor kancil melintasi tepian sungai. Diseberang sungai ia melihat pohon rambutan yang rindang tengah berbuah lebat. Karena kebetulan saat itu perut kancil sedang lapar, maka tergiurlah ia untuk memetik dan memakan buah rambutan yang telah matang itu.

Namun didalam sungai ada banyak kawanan buaya. Sang kancilpun berfikir bagaimana caranya untuk menyeberangi sungai tanpa takur akan dimakan oleh buaya. Akhirnya kancil mendapat ide, dia lalu memanggil kawanan buaya "Wahai para buaya, berbarislah kalian semua, dan aku akan membantu menghitung berapa banyak jumlah kalian semua. Agar pimpinan kalian bisa mengetahui jumlah pengikutnya". 

Akhirnya para buaya pun berbaria menurut perintah kancil yang bermaksud membantu menghitungkan jumlah mereka. Kancilpun mulai menghitung, "1, 2, 3, 4, 5, 6, dan seterusnya..." dan huff... kancilpun sampai diseberang sungai dan berhasil memetik buah rambutan yang telah maang dan memaknnya sampai kenyang.

By : Nana.R
disadur dari kisah Pada Zaman Dahulu

Kamis, 14 Juli 2016

Legenda Ikan Patin

Pada zaman dahulu, di Tanah Melayu hidup seorang nelayan tua bernama Awang Gading. Dia tinggal sendirian di tepi sebuah sungai yang luas dan jernih. Walaupun hidup seorang diri, Awang Gading selalu berbahagia. Dia mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Tuhan. Hari-harinya dihabiskan untuk bekerja mencari ikan dan kayu.

Suatu hari, Awang Gading mengail di sungai. Sambil berdendang riang, dia menunggui kailnya. Burung-burung turut berkicau menambah kegembiraan Awang Gading. Sayang, sudah berkali-kali umpannya dimakan ikan, namun saat kailnya di tarik, ikannya terlepas lagi.

"Air pasang telan ke ingsang, air surut telan ke perut,renggutlah....! Biar putus jangan rabut," terdengar dendang Awang Gading sambil melempar pancingnya kembali. Perlahan hari beranjak petang, namun tak seekor ikan pun di perolehnya. "Alangkah tidak beruntungnya diriku hari ini," keluh Awang Gading. Ia bergegas membereskan peralatan pancingnya dan berniat pulang. Tiba-tiba terdengar suara tangis bayi, dengan penasaran Awang Gading mencari asal suara tersebut. Tak lama kemudian, Awang Gading melihat bayi perempuan tergolek di atas batu. Sepertinya dia baru saja di lahirkan oleh ibunya lalu ditinggal pergi begitu saja.

"Anak siapa gerangan? kasihan, ditinggal seorang diri di tepi sungai," gumam Awang Gading kemudian membawa pulang bayi perempuan tersebut. Awang Gading memberi nama bayi tersebut Dayang Kumunah. Sejak kehadiran Dayang, awang bertambah rajin bekerja. Awang memberikan kasih sayang dan perhatian yang melimpah untuk Dayang. Berbagai pengetahuan yang dimiliki ditularkannya kepada Dayang. tak lupa pelajaran budi pekerti juga diberikannya. Kadang diajaknya dayang mencari kayu atau mengail untuk mengenal alam secara lebih dekat.

Dayang Kumunah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan berbudi. Dia juga rajin membantu bapaknya. Sayang, Dayang Kumunah tidak pernah tertawa. Suatu hari, seorang pemuda kaya bernama Awangku Usop singgah di rumah Awang Gading. Dia terpesona saat melihat kecantikan Dayang Kumunah. Tak lama kemudian Awangku Usop melamar Dayang pada Awang Gading. Lamaran Awangku Usop diterima, tetapi Dayang Kumunah mengajukan syarat, "Kanda Usop, sebenarnya kita berasal dari dua dunia yang berbeda. Saya berasal dari sungai dan mempunyai kebiasaan yang berlainan dengan manusia. Saya akan menjadi istri yang baik, tetapi jangan minta sata untuk tertawa,"pinta Dayang Kumunah. Awangku Usop menyetujui syarat tersebut.

Pernikahan mereka diadakan dengan pesta yang sangat meriah, semua tetangga dan kerabat kedua mempelai di undang. Aneka hidangan tersedia dengan melimpah. Seluruh undangan gembira menyaksikan pasangan pengantin itu. Dayang Kumunah gadis yang sangat cantik dan Awangku Usop seorang pemuda yang sangat tampan. Sungguh pasangan yang serasi.

Awangku Usop dan Dayang Kumunah hidup berbahagia. Namun kebahagiaan mereka tak berlangsung lama. Beberapa minggu setelah pernikahan, Awang gading meninggal dunia. Hingga berbulan-bulan Dayang Kumunah bersedih meskipun Awangku Usop selalu berusaha membahagiakan hati istrinya tersebut. Untunglah, kesedihan Dayang Kumunah segera terobati dengan kelahiran anak-anaknya yang berjumlah lima orang. Meskipun kini telah memiliki lima orang anak, Awangku Usop merasa kebahagiaannya belum lengkap sebelum melihat Dayang Kumunah tertawa.

Suatu hari, anak bungsu mereka mulai dapat berjalan dengan tertatih-tatih. Semua anggota keluarga tertawa bahagia melihatnya, kecuali Dayang Kumunah. Awangku Usop meminta Dayang kumunah untuk tertawa, Dayang Kumunah menolaknya, namun suaminya terus mendesak. Akhirnya, Dayang pun tertawa. Saat tertawa itu, tampaklah insang di mulut Dayang Kumunah yang menandakan ia keturunan ikan. Setalah itu, dayang segera berlari ke sungai, Awangku Usop beserta anak-anaknya heran dan mengikutinya. Perlahan-lahan tubuh Dayang berubah menjadi ikan. Awangku Usop dan anak-anaknya ditinggalkannya. Awangku Usop telah mengingkari janjinya dengan meminta Dayang Kumunah tertawa.

Awangku Usop segera menyadari kekhilafannya dan meminta maaf. Dia meminta Dayang Kumunah kembali ke rumah mereka. Namun, semua sudah sudah terlambat. Dayang Kumunah telah tejun ke sungai. Dia telah menjadi ikan dengan bentuk badan cantik dan kulit mengilat tanpa sisik. Mukanya menyerupai raut manusia. Ekornya seolah-olah sepasang kaki yang bersilang. Orang-orang menyebutnya ikan patin.

Awangku Usop dan anak-anaknya sangat bersedih. Mereka berjanji tidak akan makan ikan patin karena di anggap sebagai keluarga mereka. Itulah sebabnya orang Melayu yang tidak makan ikan patin.

*berbagai sumber

Asal Usul Danau Toba


Di sebuah desa di wilayah Sumatera, hidup seorang petani. Ia rajin bekerja meski lahan pertaniannya tidak luas. Ia bisa mencukupi kebutuhannya dari hasil kerjanyayang tidak kenal lelah. Sebenarnya usianya sudah cukup untuk menikah, tetapi ia masih hidup sendirian. Di suatu pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di sungai. "Mudah-mudahan hari ini aku mendapat ikan yang besar", gumam petani tersebut dalam hati. Beberapa saat setelah kailnnya dilemparkan, kailnya terlihat bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani itu bersorak kegirangan setelah mendapat seekor ikan cukup besar.

Ia takjub melihat warna sisik ikan yang indah. Sisik ikan itu berwarna kuning emas kemerah-merahan. Kedua matanya bulat dan menonjol berkilat menakjubkan. Tiba-tiba ikan itu bicara, " Tunggu, aku jangan di makan! Aku akan bersedia menemanimu jika kau tidak jadi memakanku".

Petani terkejut mendengar suara ikan itu. Karena keterkejutannya, ikan yang ditangkapnya terjatuh ke tanah. Kemudian tidak berapa lama, ikan itu berubah wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita.

"Bermimpikah aku?" gumam petani.
"jangan takut, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang budi padamu karena telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata," kata gadis itu. "Namaku Putri, aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu," kata gadis itu. Petani itu pun mengangguk. Maka jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Putri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat.

Setelah sampai di desanya, gemparlah penduduk desa melihat gadis cantik jelita bersama petani tersebut. "Dia mungkin bidadari yang turun dari langit," gumam mereka

Petani merasa sangat bahagia dan tenteram. Sebagai suami yang baik, ia terusbekerja untuk mencari nafkah. Ia mengolah sawah dan ladangnya dengan tekun dan ulet. Karena ketekunan dan keuletannya, Petani dan Putri bisa hidup berkecukupan. Banyak orang iri, dan mereka menyebarkan sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan keberhasilan usaha petani. "Aku tahu Petani itu pasti memelihara makhluk halus!" kata seseorang kepada temannya. Hal itu sampai ke telinga Petani dan Putri. Namun mereka tidak merasa tersinggung, bahkan semakin rajin bekerja.

Setahun kemudian, kebahagiaan Petani dan Putri bertambah, karena Putri melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia di beri nama Putra. Putra tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan kuat. Ia menjadi anak manis tetapi agak nakal. Ia mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar. Makanan yang seharusnya di makan bertiga dapat di makannya sendiri.

Lama-kelamaan, Putra selalu membuat jengkel ayahnya. Jika disuruh membantu pekerjaan orangtua, ia selalu menolak. Istri Petani selalu ,mengingatkan Petani agar bersabar atas ulah anak mereka. "Ya, aku akan bersabar, walau bagaimanapun dia itu anak kita!" kata Petani kepada istrinya. "Syukurlah, Kanda berpikiran seperti itu. Kanda memang seorang suami dan ayah yang baik," puji Putri kepada suaminya.

Namun, kesabaran itu ada batasnya. Hal ini di alami oleh Petani itu. Pada suatu hari, Putra mendapat tugas mengantarkan makanan dan minuman kesawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi Putra tidak memenuhi tugasnya. Petani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. ia langsung pulang ke rumah. Di lihatnya Putra sedang bermain bola. Petani menjadi marah sambil menjewer telinga anaknya, "Anak tak tahu di untung! Tak tahu diri! Dasar anak ikan !" umpat si Petani. Tanpa sadar ia telah melanggar janji dengan mengucapkan kata pantangan itu.

Setelah Petani mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap. Dari bekas injakan kakinya, tiba- tiba menyemburlah air yang sangat deras dan semakin deras. Desa Petani dan desa sekitarnya terendam semua. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya di kenal dengan nama Danau Toba, sedabgkan pulau kecil di tengahnya di kenal dengan nama Pulau Samosir.
*berbagai sumber

Perdamaian Kunang-Kunang Dan Jangkrik

D ulu, jika malam tiba, padang rerumputan yang diselingi aliran sungai itu begitu meriah. Padang itu memamerkan harmonisasi suara dan gemerl...