Kamis, 23 Februari 2017

Lumba-Lumba Yang Terdampar








Semburat sinar matahari yang masih muda belum cukup menghangatkan perairan di selatan pulau yang cantik itu. Sebagian besar penghuni disana, seperti ikan Marlyn, Tenggiri, Cakalang, dan Paus Bongkok masih bermalas-malasan. Mereka enggan memulai aktivitas pagi seperti biasanya. Arus dingin yang datang dari timur, membuat mereka merapatkan tubuh satu sama lain, mencari kehangatan.

"Hii... dingin sekali sih pagi ini," ujar Tenggiri. "Betul," jawab Paus Bongkok yang berada tak jauh darinya. "Huaaah...," Paus Bongkok menguap lebar. Rasa kantuk masih menggelayutinya. "Mau tidur lagi, ah," katanya.

Tapi sepagi itu, Dolpino, seekor lumba-lumba yang  gesit dan lincah sudah berlari berkejaran ke sana kemari dengan saudaranya, Dolpina. "Ayo, kejar aku!" katanya. Dolpina meluncur denagn cepat dibelakangnya, mencoba mengejarnya. Tapi, Dolpino sudah melesat lebih cepat menjauhinya.

Tenggiri, Cakalang, dan Marlyn merasa terganggu. Tapi, mereka enggan untuk mengingatkan kedua lumba-lumba itu. Dolpino dan saudaranya mudah sekali tersinggung dan kerap bermasalah dengan ikan -ikan yang lain. Ketiga ikan itu tak mau berurusan dengan Dolpino dan Dolpina.

Dolpino dan Dolpina terus bermain kejar-kejaran. Kini bahkan lebih seru. "Kalian ini harus hati-hati! Lagi pula, masak masih pagi seperti ini main kejar-kejaran?" kata Paus Bongkok yang merasa terusik ketika kedua lumba-lumba itu menyerempetnya. "Kalian mengganggu tidurku saja!"

DIperingatkan seperti itu bukannya meminta maaf, Dolpino dan Dolpina justru geram. Mereka justru tersinggung. "Ah, dasar pemalas!" kata mereka. Tidak cukup itu, mereka bahkan menghina dan menjelek-jelekkan si Paus Bongkok dengan kata yang pedas.

Paus Bongkok tersulut emosinya mendengar kata-kata itu. Hampir saja ia marah. Tapi, ia bisa menguasai dirinya. "Sudahlah, pergi sana! aku tak ingin berurusan dengan kalian. Tapi, Asal kalian tahu, kalian tak akan pernah bisa hidup tanpa yang lain! Merasa paling baik da pintar sendiri! Kelak kalian pasti membutuhkan kami yang sering kalian hina dan kalian jelek-jelekkan!" Seru Paus Bongkok.

"Ah, masa sih?" Kata Dolpino. "Tenang saja, Bongkok. Kami pasti bisa mengatasi kesulitan kami sendiri, hahaha!" Lalu mereka berdua meluncur cepat meninggalkan si Paus Bongkok. "Ayp Pina, kita berenang keujung pulau sana!" "Baiklah, Pino"

Laut yang tenang,berhias gelombang-gelombang kecil membuat kedua lumba-lumba itu bersemangat. Mereka melompat-lompat ke udara, melayang keluar air, dan memacu kecepatan hingga batas tertinggi. "Woiii.. asyiknya," teriak Dolpino. "WOiii... senangnya," Dolpina tak mau kalah.

Bukkk... pada sebuah lompatan tinggi, tubuh Dolpino dan DOlpina mendarat disebuah pulau pasir. "Aduh, sakitnya," jerit Dolpino. "Kepalaku pening, Pino," kata Dolpina. "Wah, celaka, kita bisa mati kekeringan disini, Pino! Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Dolpino tak menjawab. Ia sendiri tak tahu apa yang harus dilakukannya.

Dolpina terus berteriak-teriak. Ia mulai kepanasan. Apalagi matahari sudah mulai meninggi. "Pino... Pino... Panasnya! Kulitku seperti terbakar!" Dolpina menggeliat-geliat. Kedua Lumba-lumba itu terus berteriak-teriak, "Toloong... toloooong...!"

Beberapa waktu lamanya tak ada yang mendengar dan menolong mereka.. Sampai kemudian terlihat oleh mereka, sebuah semburan air yang memancar keudara, Brusshhh... brushhh.., dan sebuah ekor besar menghantam laut, brassshhh... brasshhh...! "Itu pasti si Paus Bongkok!" seru DOlpino. Dengan sisa-sisa tenaganya, DOlpino dan Dolpina berteriak sekuat-kuatnya, "Haiiii... Paus Bongkok, kemarilah! Tolonglah kami!"

Mula-mula, Paus Bongkok tak yakin dengan yang didengarnya. Tapi, perlahan-lahan ia mendekat. DIlihatnya DOlpino dan Dolpina yang hampir mati kepanasan. Paus Bongkok segera mengerahkan segenap kekuatannya untuk menolong limba-lumba itu. Gelombang besar yang dibuatnya dari gerakan tubh dan sirip ekornya mampu membanjiri pulau pasir tersebut. Akhirnya selamatlah Dolpino dan Dolpina.

"Terima kasih ya, Paus Bongkok," kata mereka berdua. "Maafkan kami telah banyak mnghina dan menjelek-jelekkanmu. Apa jadinya kami tanpa pertolonganmu? sekali lagi terima kasih, ya!"

Sejak saat itu DOlpino dan Dolpino tak pernah lagi menjelek-jelekkan si Paus Bongkok. Mereka menjadi lumba-lumba yang baik dan bersahabat dengan siapa saja.

TAMAT

Hikmah Cerita : Di dunia ini tak adas satupun orang yang bisa hidup sendiri. SEkaya, secantik, atau sehebat apapun seseorang, dia tetap memerlukan bantuan dan pertolongan orang lain

Fakta Unik :
Lumba-lumba meski hidup dilaut, tetapi dia bukan ikan. Ia adalah Mamalia (HEwan menyusui)
Lumba-lumba bernaas dengan paru-paru
Lumba-lumba mendeteksi ruang dan benda di sekitarnya bukan dengan mata, melainkan dengan getaran suara.

Pengarang naskah : BIlif Abduh


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perdamaian Kunang-Kunang Dan Jangkrik

D ulu, jika malam tiba, padang rerumputan yang diselingi aliran sungai itu begitu meriah. Padang itu memamerkan harmonisasi suara dan gemerl...