Minggu, 19 Februari 2017

Landak Pemberani



Di ufuk barat, semburat warna merah jingga di langit menandakan bahwa malam akan datang. Di bawah temaram senja itu, di sebuah pinggiran hutan, seekor landak berjalan gontai, pulang kerumahnya setelah seharian mencari makan. Didengarnya induk kancil bergurau riang gembira bersama anak-anaknya. Begitu pula dengan kelinci. Landak melewati kedua binatang itu. Begitu mereka melihat dirinya, mereka buru-buru mendekap anak-anaknya, seperti ingin melindungi mereka dari landak tersebut.

Bukan kali ini saja mereka bersikap begitu terhadap landak. Sudah lama mereka berdua dan binatang lainnya menunjukkan yang tidak menyenangkan itu terhadap landak. Tapi, landak tetap sabar. Selama ini ia tetap cuek dan tak pernah ambil pusing dengan sikap mereka. 

Tapi lama-kelamaan, ketika kesepian begitu mendera dirinya, landak iut mulai berpikir, jangan-jangan ada yang salah dengan dirinya. Seperti sore ini, ketika ia pulang, tak ada satupun binatang di jalan yang ditemuinya menyapanya. Sekadar kata 'hai' saja tak ada yang mengucapkannya. Padahal, seperti yang ia tahu dan ia lihat sendiri, mereka semua begitu ramah satu sama lain. Saling menyapa dan berbagi sedikit makanan jika ada yang merasa lebih. Tapi terhadap dirinya, mengapa semua bersikap lain?

"Mengapa, ya, mereka bersikap begitu terhadapku? Apa, ya, salahku terhadap mereka?" pikirnya. Pada satu kesempatan, landak mendekat ke tikus hutan yang tengah asyik menikmati makan siangnya di bawah pohon. Ia bermaksud menanyakan perihal sikap dan perlakuan yang diterimanya selama ini. Tapi, begitu tikus hutan itu tahu bahwa landak mendekat, ia pun langsung ambil langkah seribu. Lari secepat-cepatnya menjauhi landak. Meninggalkan makan siangnya yang baru beberapa kunyah dinikmatinya.

"Aneh..." kata landak. Ia tak putus asa. "aku harus mengetahui sebab mengapa mereka manjauhiku. Harus! Aku harus mengetahuinya!" tekadnya. Dilihatnya tupai yang tengah turun dari pohon. Ia segera mendekatinya. "Oh, itu," jawab tupai. "Mmm... setahuku sih, tapi maaf jangan marah ya, mereka tak ingin dekat denganmu karena menurut mereka kamu itu aneh dan menakutkan."

"Masak, sih?" "Iya, terutama bulu-bulumu yang tajam itu!" "Terus kamu sendiri melihatku seperti apa?" landak penasaran. "Kalau aku, sih, biasa saja," jawab tupai itu. "Buktinya, aku tak lari darimu." Landak diam. Ia manggut-manggut, "Iya, ya," katanya. "Benar katamu. Berarti kita bisa berteman, kan?"

"Mengapa tidak? kan, kita sama-sama makhluk tuhan." Penerimaan yang tulus dari tupai membuat landak lega. Rupanya masih ada yang mau berteman dengan dirinya. "Tenang saja! Suatu saat sikap mereka akan berubah terhadapmu!" yakin tupai.

"Terima kasih, kawan!" Landak pun kini lebih semangat menjalani hidup. Ia tak khawatir lagi. Ia yakin suatu saat sikap teman-temannya pasti akan berubah. Yang penting baginya adalah selalu berbuat baik kepada siapapun.

Ketika kawasan tempat tinggal landak dan kawan-kawannya diserang macan kumbang, semua menggigil ketakutan. Tak ada yang berani keluar. Bahkan sebagian melarikan diri. Menyadari kondisi gawat itu, landak sengaja tidak ikut lari menyelamatkan diri. Ia justru terpanggil untuk menolong teman-temannya. "Kalau tak ada yang berani melawan macan kumbang itu, selanjutnya ia pasti akan selalu kesini. Aku harus mengusirnya dari sini!" tekadnya.

Landak menghadang laju macan kumbang, sementara kawan-kawannya dengan harap-harap cemas mengawasinya dari jauh. Lantas terjadilah pertarungan sengit, pertarungan hidup dan mati. Landak sepertinya sudah siap mengorbankan nyawanya sendiri. Ia terluka cukup parah. Tapi, si macan kumbang terluka lebih parah lagi. Macan kumbang itu akhirnya menyerah, dan bergegas menjauh dari landak.

"Ampuun! Ampuuun!" teriaknya. Landak tak mengejarnya karena ia sendiri terlihat sangat letih. Ia ambruk. Teman-temannya mendekatinya dan segera memberinya pertolongan. "Ternyata ia tak seburuk dan sejahat yang kita kira, ya?" kata kancil. "meski tampilannya angker dengan bulu-bulunya yang tajam itu, ternyata ia berhati baik."

Akhirnya penilaian mereka terhadap landak pun berubah. Mereka mau berteman dengan landak. Bahkan sangat menghormatinya.

TAMAT

Hikmah cerita : Jangan menilai orang hanya dari tampilan luarnya. Terkadang yang kita anggap jahat, justru ternyata oragng baik, dan sebaliknya.

Fakta unik : 
Landak adalah binatang pengerat, gemar makan dedaunan, akar dan kulit pohon
Bayi landak lahir dengan duri yang lunak, dan mengeras dalam waktu satu jam setelah ia lahir.
Terdapat 11 jenis landak ukuran besar di dunia, tersebar di Afrika, Asia, dan Eropa. Sementara sisanya, landak yang lebih kecil, terdapat di Amerika Utara

Pengarang naskah : BIlif Abduh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perdamaian Kunang-Kunang Dan Jangkrik

D ulu, jika malam tiba, padang rerumputan yang diselingi aliran sungai itu begitu meriah. Padang itu memamerkan harmonisasi suara dan gemerl...