Minggu, 19 Februari 2017

Prasangka Si Bangau


Sudah sesiang ini, tapi langit tampak muram. Matahari belum juga menunjukkan wajahnya, terhalang oleh mendung hitam yang tebal. Embusan angin barat yang cukup kencang membuat ranting-ranting bakau bergoyang tak tentu arah.

Kegidupan di muara Bengawan Solo berjalan seperti biasa. Burung-burung yang bersarang di ranting dan dahan bakau telah meninggalkan sarang mereka, mencari makan. Di salah satu ranting bakau disana, tampak sepasang bangau yang gelisah. Terlihat si pejantan yang ragu untuk meninggalkan istrinya. Sementara pasangannya seolah-olah tak siap melepas suaminya pergi mencari makan.

"Lihatlah disana, suamiku!" kata istrinya. "Di mana?" "Di pohon itu! Dua pohon dari sini!" Terlihat oleh suaminya seekor gagak besar tengah bertengger dengan angkuhnya disana. "Dari gelagatnya, sepertinya ia bukan gagak yang baik," kata suaminya.

"Ia, aku juga berpikir begitu," jawab istrinya. "Dari kemarin ia terus menatap tajam ke sarang kita ini. Sepertinya ia mengincar telur, dan anak kita yang kecil ini." "ah, gawat kalau begitu. Tapi tenanglah, aku akan selalu berada disisimu." "Tapi, bagamana dengan anak kita? akan kita kasih makan apa kalau kamu tak segera pergi mencari makan?"

Ciiit... ciiit.. ciiit... suara bayi bangau itu mengejutkan mereka berdua. "Lihatlah bayi kita, rupanya ia sudah kelaparan," istri bangau terlihat panik. "Ayo berangkatlah! segera cari makan buat anak kita!" "tapi bagaimana dengan gagak itu nanti? Bagaimana kalau ia menyerangmu? menyerang bayi kita dan mencuri telur kita?"

Bangau jantan itu kembali melihat kearah gagak hitam besar yang masih bertengger di tempatnya dan menatap lurus-lurus kesarang mereka. Ciiit... ciiit... ciittt... bangau kecil  kembali bercicit. Ia semakin kelaparan. "Ayo suamiku, segeralah berangkat! kasihan anak kita ini!"

Akhirnya bangau jantan itu pun berangkat juga. Bersamaan dengan kepakan sayapnya meningalkan sarangnya, didengarnya gagak hitam besar itu berteriak-teriak "kaaakk... kaaakkk...!" teriakan yang membuat hatinya semakin tak tenang meninggalkan istri, anak, dan telur calon anak-anaknya di sarangnya.

Sepeninggal suaminya, bangau betina bersikap penuh waspada. Ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan terburuk yang dilakukan gagak hitam besar itu. Ia rela mengorbankan nyawanya demi anak dan telur calon anak-anaknya. Berkali-kali ia membentangkan sayapnya lebar-lebar, mendongak keatas seolah memamerkan kekuatannya kepada gagak hitam besar tersebut.

"Ayo kemarilah!" katanya. "kamu kira aku takut padamu?" Gagak tersebut menukik tajam, melesat bagai kilat. Ia mendarat tepat dibelakang bangau betina itu. Tendangan kerasnya berhasil menjatuhkan ular yang hendak mematuk bangau betina. Bangau tersebut terkejut. Rupanya ia telah salah duga. Ia telah berprasangka buruk terhadap gagak besar hitam itu.

"Ah, rupanya kamu justru ingin menyelamatkanku, ya?" katanya, malu-malu. "maaf ya, maafkan aku." Ketika suaminya tiba, bangau betina tersebut menjelaskan semuanya kepada suaminya. "Kita telah berutang budi kepada gagak itu," katanya. "Aku benar-benar menyesal telah menuduhnya yang bukan-bukan. Sejak kejadian itu, bangau dan gagak berteman baik. Mereka hidup bertetangga dengan damai dan saling menghormati.

TAMAT

Hikmah Cerita : Janganlah berprasangka buruk terhadap orang lain. Prasangka buruk hanya akan menciptakan rasa tidak nyaman, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Fakta Unik :
Bangau merupakan burung pantai migran
Bangau tak memiliki organ suara sehingga tak bisa bersuara. Ia berkomunikasi dengan cara memadukan paruhnya dengan pasangannya.

Pengarang naskah : Bilif Abduh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perdamaian Kunang-Kunang Dan Jangkrik

D ulu, jika malam tiba, padang rerumputan yang diselingi aliran sungai itu begitu meriah. Padang itu memamerkan harmonisasi suara dan gemerl...