Kamis, 16 Februari 2017

Sammy, Si Semut Pemalas


Berbaris rapi memanjang, satu-satu, masing-masing membawa beban, jika tidak kuat, sejumput makanan itu mereka bahwa secara berkelompok. 

Kawanan semut itu melintasi kawasan hutan sambil bernyanyi dengan riang gembira. "Tralala... lala.. lala... trala... lala... lala... horeee!" Dengan bernyanyi-nyanyi mereka berharap bisa melupakan kekhawatiran akan ancaman pemangsa ditengah jalan, mislanya kadanl dan tringgiling. Mereka terus bekerja sambil bernyanyi, berharap bisa selamat sampai sarang mereka."Ayooo! Jangan melambaaat!" Salah satu semut menyemangati. "Siaaap!" sahut yang lain. 

Musim dingin yang kemungkinan datang lebih cepat kali ini mengharuskan mereak bekerja lebih cekatan. Bekerja lebih cepat. Itu jika mereka tidak ingin mati kelaparan selama tiga bulan mendatang.. Persediaan makanan digudang mereka sudah hampir habis.

Setiap hari, selama hampir seminggu mereka bekerja memindahkan makanan apapun yang mereka jumpai kesarang mereka. Selama itu pula tak ada yang berleha-leha dan bermalas-malasan, kecuali Sammy, seekor semut bertubuh tambun dengan pipi yang tembem. "Hai Sammy," sapa seekor kumbang. "apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu tidak ikut bergabung dengan mereka?" "Ah, buat apa? bikin capek saja!" "Lho," si kumbang kaget dengan jawaban Sammy. "Bukannya kamu bangsa semut sudah seharusnya bergotong royong? bekerja bersama? Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing? kamu ini kok aneh?" "Ah sudahlah! Kamu jangan ikut campur!" Sammy tersinggung. "Wuaahhh... aku ngantuk, aku mau tidur, ah! Sudah, kamu pergi sana!"

Kumbang tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Baru kali ini ada semut yang malas seperti si Sammy itu. "Bisa-bisanya dia tidur setelah makan kekenyangan, sementara teman-temannya sibuk bekerja." "Kumbaaaang! Mengapa masih disitu? Sudah, pergi sana!" Hardik Sammy. Kumbang pun buru-buru terbang meninggalkan tempat itu.

"Tuh, liaaat!" teriak seekor semut pada temannya. "Itu kan Sammy! Mengapa dia tidur nyenyak seperti itu, padahal kita semua bekerja keras, bermandi peluh? Keterlaluan sekali anak itu!" "Sudahlah, tak perlu hiraukan dia. Mari kita kembali bekerja". "Ah, enak saja! jawab semut itu. "Ini tak bisa dibiarkan! Kelakuan Sammy harus diketahui semua semut!"

Semut itupun menyebarkan informasi kepada yang lain tentang kemalasan Sammy, tentang keengganannya bergotong royong. "Ah, anak itu ternyata tidak juga berubah," komentar semut setengah baya. "Iya, aku juga heran dengan Ssammy. Mengapa dia begitu malas, ya?" kata yang lain. Kontan saja setiap semut jengkel dengan sikap malas Sammy. "Dengan apa lagi kita harus mengingatkannya?" Kata semut setengah baya.

"Sudahlah, biarkan saja dia begitu! Anggap saja dia tak pernah ada. Tak perlu kita menegurnya," usul temannya. Salju pertama mulai turun. Udara begitu dingin diluar. Dalam sarangs emut, jatah makanan mulai dibagikan. Sammy menunggu. Tapi sampai begitu lama, namanya tak juga disebut. Setiap semut tak ada yang mengacuhkan kehadirannya.

"Kalian benar-benar jahat!" Protesnya. "Ada apa dengan kalian? Mengapa kalian memerlakukan aku seperti ini?" Sammy mulai menangis. Ia sangat kelaparan. "Mana? Mana jatahku?" Semua semut diam tak memperdulikan si Sammy. Semua menikmati jatah masing-masing dengan lahap. Sementara itu, Sammy terus menangis, ia menjerit-jerit, memohon diberi jatah makanan.

Sammy mulai lemas, badannya lunglai. Ia sempoyongan dan terjatuh. Seekor semut setengah baya mendekatinya, lalu menyuapkan sebagian jatah makanannya ke mulut Sammy. "Cepat makan! Setelah ini dan seterusnya, perbaikilah dirimu! Jangan malas lagi! Ubahlah sikapmu! Setelah itu, perhatikannlah, mereka akan mebgubah sikap mereka terhadapmu!"

Sejak peristiwa itu, Sammy tak lagi jadi semut pemalas. Ia rajin bekerja bersama teman-temannya. Sikap teman-temannya pun mulai berubah terhadapnya.

TAMAT

Hikmah Cerita: 
Jangan malas, karena tak ada satu pun makhluk Tuhan yang suka terhadap orang malas. Perbaiki dirimu terlebih dahulu, niscaya orang lain akan bersikap baik terhadapmu.

Fakta  Unik :
Semut hidup secara berkoloni, dan mereka membpunyai seekor ratu yang memimpin mereka
Dalam koloni semut, ada yang disebut semut "pelopor", tugasnya mencari sumber makanan. Semut ini tak pernah pulang sebelum menemukan sumber makanan.
Dalam barisan yang panjang, semut berjalan dengan meninggalkan bau yang khas. Bau inilah yang menjadi petunjuk semut-semut dibelakangnya agar tak tersesat.

Pengarang naskah : Bilif Abduh

Semut Pemalas, Dongeng Si Semut 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perdamaian Kunang-Kunang Dan Jangkrik

D ulu, jika malam tiba, padang rerumputan yang diselingi aliran sungai itu begitu meriah. Padang itu memamerkan harmonisasi suara dan gemerl...