Di luar, titik gerimis sepertinya masih belum mau berhenti. Hujan yang turun sejak siang tadi membuat sekelompok musang meringkuk dalam tempat persembunyian mereka. Masing-masing hanya diam, saling pandang satu sama lain. Tak tahu apa yang harus mereka lakukan dalam keadaan seperti itu. MEreka terlihat lapar.
"ini sungguh tidak adil!" seekor musang dengan totol-totol putih melompat ke tengah-tengah kawannya. "Kita tidak bisa seperti ini terus menerus! Apa yang mereka putuskan itu sungguh merugikan kita. Akan kita kasih makan apa anak-anak kita?"
"Tapi, siapa yang berani menentang keputusan si Hitam, beruang besar tersebut?" musang abu-abu yang dari tadi diam mulai angkat bicara. "Bukankah itu adalah keputusannya yang disetujui semua penghuni hutan ini?" "Aku tahu itu! Dan inilah letak ketidakadilan si Hitam! Mengapa ketika yang lain diberi jatah pohon buah yang enak, kita justru dilarang? Bagian kita hanya pohon dengan buah yang hanya seukuran ibu jari kita."
"Memang sih tidak adil. Tapi apa kita berani melawannya? Apa kamu sendiri berani menggugat keputusannya itu?" musang abu-abu mencoba mengusik dan memanas-manasi musang totol putih. "Kalau kita bersatu, mengapa harus takut? Ini bukan masalah pribadi aku, tapi persoalan kita bersama bangsa musang! Kita harus bersatu menentang si Hitam!"
"Ya, betul itu!" timpal musang abu-abu. "Aku sangat setuju denganmu. Tapi, bagaimana dengan teman-teman kita yang lain? Sungguhkah mereka berani menentang si Hitam?" "jangan khawatir! Aku bisa kumpulkan mereka. Aku yakin mereka semua akan mendukung rencana kita ini." Diluar, gerimis belum juga reda, seolah-olah belum bosan membasahi bumi yang sudah basah kuyup.
Esoknya, di hadapan ratusan musang yang berhasil dikumpulkannya, musang totol putih berpidato penuh semangat. BErapi-api laksana seorang jenderal yang menyemangati pasukannya yang akan maju ke medan laga."Yaaa! Kami siap maju! Demi harga diri kita, kami semua siap berkorban jiwa raga dalam menghadapi si Hitam!" pekik ratusan musang.
Beberapa hari setelah rapatakbar itu, setiap malam tampak ratusan musang yang berlatih beladiri. Sepertinya mereka benar-benar mempersiapkan segalanya. Jika gugatan pada si Hitam tak digubris, mereka siap melancarkan serangan. Tak peduli menang atau kalah nantinya. Tang penting mereka siap menunjukkan bahwa bangsa musang tak boleh direndahkan begitu saja.
"Ayoo! berlatih lebih kerasas!" teriak musang totol putih, yang ternyata telah didaulat sebagai pemimpin. Seekor kelelawar terbang rendah, mendekat ke kawanan musang yang tengah serius berlatih perang. "Hai, kawanku," katanya pada musang totol putih. "Wah, kayaknya siap nih menantang si Hitam?"
Musang totol putih tak acuh pada kelelawar itu. Dia berjalan keliling, mengamati kawan-kawan dan anak buahnya yang tengah berlatih. KElelawar terbang mendekatinya, hinggap disebuah dahan. "Hmm... rasanya memang wajar, ya, kalian membela diri. MEnggugat si Hitam itu. Tapi menurutku sih apa yang hendak kalian lakukan ini hanya akan menyebabkan perang besar di hutan. Bisa saja kalian yang kalah. Tapi sejauh yang aku tahu, tak ada pemenang sejati dalam perkelahian atau peperangan. kalah jadi abu, menang jadi arang."
"Jangan banyak bicara!" Musang totol putih naik pitam. "Jangan turut campur urusan kami! Apa yang sebenarnya kamu inginkan?" Kelelawar tersenyum menghadapi kemarahan musang totol putih. "Sungguh, aku tidak punya maksud apa-apa. Aku hanya ingin memberi tahu, batalkan saja niat kalian itu. Tak ada gunanya bersitegang dan berperang. Kalau saja kalian tahu betapa nikmatnya buah kalian yang menjadi jatah kalian itu. Kalian pasti akan senang dan berterima kasih pada si HItam."
"Benarkah? Memangs ebenarnya pohon apa itu? Apa kamu pernah merasakannya? "Ya, aku sudah pernah merasakannya, dan enak sekali. Itu adalah pohon kopi. Cobalah dulu! Maaf, aku buru-buru," pamit kelelawar, lalu terbang meninggalkan musang totol putih yang masih bengong.
"Hmm... benar sekali yang dikatakn kelelawar itu. Buah pohon ini ternyata sangat enak," ujar musang totol putih setelah mencicipi buah kopi. Musang-musang lainnya pun memakan tanaman kopi yang menjadi jatah mereka itu dengan lahap. "Rasanya kita patut berpesta untuk kenikmatan buah kopi ini," kata musang totol putih. "mulai hari ini, kita lupakan saja rencana kita untuk menggugat si Hitam, setujuuu?"
"Setuju...!" jawab yang lain serempak.
Tak ada perang, tak ada pertempuran. Keadaan dihutan tetap damai seperti sedia kala.
TAMAT
Hikmah cerita : Jangan mengedepankan emosi dan kekerasan dalam upaya menyelesaikan persoalan. Terkadang apa yang kita anggap tak baik ternyata sangat bermanfaat dan menyenangkan bagi kita.
Fakta Unik :
Musang (luwak dalam bahasa jawa) adalah binatang yang aktif pada malam hari (nokturnal)
Musang gemar sekali makan buah kopi di pohonnya langsung.
Kopi luwak adalah kopi asli indonesia, yang harganya paling mahal sedunia. Dinamakan kopi luwak karena biji kopinya merupakan sisa dari pencernaan luwak atau musang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar