Senin, 13 Februari 2017

Anoa Dan Kerbau Liar


Segerombolan kerbau liar berkumpul ditepian sungai dipinggir hutan. Dari raut wajah mereka terlihat ada sesuatu yang tengah mengsik kawanan itu. Ketua mereka, seekor kerbau yang paling besar dengan tanduk runcing pajang dan kulit hitam legam, mendengus keras. Geram.

"Tidak! ini tidak bisa dibiarkan begitu saja," katanya. "Mengapa justru kita yang jadi sasaran kemarahan petani itu? kita harus bisa menemukan pelaku perusakan  itu. Aku yakin bukan dari kalangan kita."

"Tapi, siapa lagi kalau bukan anggota dari kita sendiri?" tanya kerbau muda. "Aku belum tahu, tapi aku yakin sebentar lagi kita bisa mengetahuinya."

Lalu kedua kerbau itu memerintahkan anak buahnya untuk selalu waspada. Memasang mata dan telinga agar pelaku perusakan yang mengatasnamakan mereka itu cepat terungkap dan tertangkap.

Beberapa minggu terakhir ini, kerbau-kerbau liar itu diusir dan dicambuk keras oleh para petani. Mereka dianggap sebagai pengganggu. Banyak perladangan yang siap panen menjadi rusak, dan para petani menganggap bahwa pel;akunya adalah para kerbau. Padahal, biasanya para petani itu begitu baik kepada mereka. 

"Kita harus buktikan bahwa bukan kita pelakunya!" kata ketua kerbau liar.

Pada suatu senja yang temaram, menjelang malam, seekor kerbau liar muda tergopoh-gopoh menghadap ketuanya. "Pak ketua," katanya. "Rasanya sebentar lagi kita akan terbebas dari kemarahan para petani itu." "Apa maksudmu? Apa kamu berhasil menemukan pelaku perusakan itu?" "ya, benar. TErnyata dugaan anda selama ini tak meleset. Ternyata dia itu sangat mirip dengan kita. Hanya lebih kecil perawakannya."

Ketua kerbau liar sangat penasaran dengan penjelsan kerbau muda. "Baiklah, agar lebih jelas, kita pastikan saja besok pagi. Aku harap semua bersiap besok. Kita tangkap dia!"

Dari balik rimbun pepohonan, kawanan kerbau liar itu mengintip. Pada suatu kesempatan, mereka bergerak cepat mengepung hewan misterius itu. "oh, ternyata kamu pelakunya, ya," kata ketua kerbau liar. "Memang ya, kamu mirip kami. Wajar jika petani itu menuduh kami pelakunya. Mengira kamu anak kami. Sebenarnya, kamu ini siapa?"

Binantang yang mirip kerbau itu celingukan, ia kikuk. "Aku anoa," katanya. "Maafkan aku, aku tak pernah bermaksud menyulitkan kalian. AKu hanya mencari makan." "iya, aku tahu itu. Tapi mengapa sampai sedemikian parah kerusakan yang kamu tinggalkan?"
"benarkah?"
"Lihat saja, ladang-ladang itu rusak semua karena perbuatanmu. Kadihan kan, para petani, mereka jadi merugi."
Anoa itu menunduk, merasa bersalah. "Aku harap kamu tak melakukannya lagi. Kami tak mau lagi jadi sasaran kemarahan para petani. Dikiranya kami yang merusak ladang mereka. Mulai sekarang kami minta kami jangan turun kesini."
"Maksudnya apa?" tanya anoa. "Maksudnya, kami berharap kamu dan teman-temanmu merasa cukup dengan apa yang sudah kalian miliki diatas bukit sana. Bukankah makanan disana sudah cukup melimpah?" "iya sih, tapi...,"
"Tak ada tapi-tapian," putus ketua kerbau. "Anggaplah ini perjanjian! atau kamu kami serahkan kepada para petani itu."

Anoa itu diam sesaat. "Baiklah kalau begitu. aku terima perjanjian ini. Tapi, aku harap kamu tidak menyerahkanku kepada para petani."  "Jangan khawatir. AKu pegang teguh perjanjian ini," balas ketua kerbau.

Sejak itulah Anoa tak pernah lagi turun dari bukit. Dan jika tak sengaja bertemu dengan orang, dia segera ambil langkah seribu, melarikan diri. Takut kalau-kalau orang itu utusan para petani yang akan menangkapnya.

TAMAT

Hikmah cerita : Cukuplah dengan apa yang sudah kita punyai. Jangan pernah mengambil, apalagi merusak barang milik orang lain.

Fakta Unik : 
Anoa adalah binantang khas Sulawesi
Sekilas Anoa mirip kerbau, tapi perawaknnya lebih kecil
Ada dua jenis Anoa, Anoa gunung dan Anoa dataran rendah
"

Pengarang naskah : Bilif Abduh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perdamaian Kunang-Kunang Dan Jangkrik

D ulu, jika malam tiba, padang rerumputan yang diselingi aliran sungai itu begitu meriah. Padang itu memamerkan harmonisasi suara dan gemerl...