Rabu, 08 Maret 2017

Perdamaian Kunang-Kunang Dan Jangkrik



Dulu, jika malam tiba, padang rerumputan yang diselingi aliran sungai itu begitu meriah. Padang itu memamerkan harmonisasi suara dan gemerlap cahaya alam yang sempurna. Namun sayang, kini pemandangan yang elok itu sudah lama tak pernah hasir lagi disana, yakni sejak kunang-kunang dan jangkrik, unsur utama dari terciptanya harmonisasi unik itu berselisih paham akibat sesuatu yang tak jelas.

"Kunang-kunang, kamu jangan merasa paling hebat!" tduh jangkrik. "Kamu memang memiliki cahaya yang indah, tapi apalah artinya cahaya yang kamu pancarkan itu tanpa merdunya suara-suara yang aku dan lawan-kawanku ciptakan."  

"Lho, mengapa kamu berkata begitu, jangkrik?" tanya kunang-kunang. Jangkrik itu merengut kesal. "Alaaah, kamu tak perlu bersikap lugu seperti itu, deh," katanya. "Semua juga sudah tahu kok, kamu kerap memandang rendah kami. Mengolok-olok kami dibalik senyum dan keramahan sikapmu itu!"

Kunang-kunang beratambah bingung dengan ucapan jangkrik. "Sebentar... sebentar...! Siapa yang merendahkan dan mengolok-olok kamu? Sungguh, kami tak pernah memandang rendah kamu dan kawan-kawanmu!"

"Sudahlah! Meski kamu mengelak, tapi kami sudah tahu semuanya!" 
"Tentang apa, jangkrik?"
Jangkrik bertambah kesal. Ia marah besar karena merasa kunang-kunang mempermainkannya dengan kata-kata dan pertanyaan yang menurutnya sok lugu itu."Kamu memang lihai, ya. Lihai memperdaya kami. Tak kusangka!"

Kunang-kunang yang memang tak tahu duduk pesoalan dari kekesalan jangkrik terhadap dirinya, mencoba menahan diri. Tapi begitu jangkrik itu terus menuduhnya yang bukan-bukan, ia pun akhirnya terpancing juga. Ia ikut-iktan marah.  "Terus kamu mau apa sekarang?" tantang kunang-kunang.

Diantara mereka terjadi perdebatan yang sengit. Masing-masing tak bisa mengontrol diri lagi. Mereka berdua kehilangan akal sehatnya. Tak bisa berpikir jernih lagi. Masing-masing saling mengungkap keburukan mereka satu sama lain.

"Yuk, kawan-kawan!" ajak kunang-kunang kepada teman-temannya setelah berdebat sengit dengan jangkrik. "Rupanya tempat ini sudah tak cocok lagi buat kita! Mari kita pergi dari sini! Buat apa lama-lama disini? Malah menambah masalah saja!"

Kunang-kunang itupun segera pergi, terbang meninggalkan padang rerumputan yng sudah sekian waktu lamanya menjadi tempat berteduh, tempat bernaung bagi mereka.

"Biarkan saja mereka pergi," kata jangkrik kepada teman-temannya. "Memangnya mereka saja yang bisa melakukannya? Yuk kita pergi dari sini! Tempat ini tak nyaman lagi buat kita!" Jagkrik dan teman-temannya pun pergi meninggalkan padang rerumputan yang indah itu.

"Benar-benar sepi dsiini," kata belalang yang lama melewatkan malamnya dipadang itu hanya dengan kawan-kawannya. "Ah, andai saja ada kunang-kunang dan jangkrik, tentu suasananya akan lain, akan semarak."

"Betul!" timpal kawannya. "Jika malam, kunang-kunang itu akan menerangi kita semua dengan cahayanya. Kerlap-kerlip cahayanya sungguh indah. Dan, jangkrik akan menghibur kita dengan saura-suaranya yang merdu. Sayang, ya, mereka harus berselisih dan pergi meninggalkan tempat ini."

"Iya, padahal sebab perselisihan itu belum jelas. Coba saja kalau mereka bisa menahan diri dan mementingkan ego masing-masing. Tentu tempat ini akan tetap indah dengan kehadiran mereka."Jangkrik terlalu sensitif dan menuduh kunang-kunang yang bukan-bukan!"

"Sudah... sudah... yang lalu biarlah berlalu. Yang penting bagaimana usaha kita sekarang, menemukan dan mengajak mereka kembali kesini. Aku kangaen dengan mereka semua. Tempat ini rasanya sepi tanpa kehadiran mereka."

Belalang dan kelompoknya berupaya keras mencari keberadaan kunang-kunang dan jangkrik. Mereka menemukannya dan berhasil membujuk mereka untuk kembali ke padang rumput itu. Belalang berhasil mendamaikan dan mencairkan perselisihan diantara mereka. Belalang bersorak riang gembira.

Kegembiraan itu juga disambut oleh kunang-kunang dan jangkrik. Kini jika malam tiba, suasana padang rerumputan itu kembali indah dan menawan seperti dulu lagi.

TAMAT

Hikmah Cerita : Persoalan kecil seharusnya tak perlu menjadi masalah yang besar, karena bagaimanapun perselisihan hanya akan menyebabkan ketidaknyamanan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Fakta Unik :
Kunang-kunang termasuk dalam keluarga ordo coleoptera. 
Cahaya kunang-kunang dihasilkan dari zat Luciferin
Hanya kunang-kunang jantan yang bisa terbang karena memiliki sayap. Kunang-kunang betina tetap menempel pada dedaunan atau tanah.
Kunang-kunang bisa dijadikan alat ukur alami tentang kebersihan udara sebuah daerah.

Pengarang Naskah : Bilif Abduh

Senin, 27 Februari 2017

Elang Jawa Menjadi Raja




Seperti yang sudah di duga, rapat para burung memutuskan bahwa Elang Jawa akan menjadi raja untuk melindungi dan melayani mereka.

Alap-alap, sriti dan gagak yang mengusung pencalonan Elang Jawa begitu bahagia dan gembira. Calon mereka disetujui oleh sebagian besar burung. Mereka bertiga yakin bahwa Elang Jawa akan mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi mereka, khususnya dari sergapan tangan jahil manusia yang suka memburu mereka.

"Rasanya hari ini akan jadi har yang paling bersejarah buat kita semua," kata kutilang. "Betul tidaaak?"
"Betuuuuull!" jawab yang lain.
"Kita memiliki raja yang gagah perkasa, yang siap melindungi kita semua. Tapi, ada yang kita lupakan," kata kutilang.
"Apa itu?" tanya gagak, tak sabar
"Kita belum memberi gelar yang pantas kepada raja kita."
"Oh iya, ya, kok kita semua bisa lupa."
"Terus bagaimana inni? Gelar apa yang pantas kita berikan untk raja baru kita?"

Para burung kembali merapat, merundingkan tentang pemberian gelar itu. "Bagaimana kalau kita panggil si Perkasa?" usul gelatik. Peking tak mau kalah. "Bagaimana kalau si Cakar Maut?" katanya

Rapat pemberian gelar itu berlangsung alot. Masing-masing mengusulkan gelar mereka snediri-sendiri. Alap-alap sebagai sesepuh menengahi kebutnuan rapat itu. "Bagaimana kalau kita kasih gelar Rajawali?" usulnya.

"Rajawali?" mereka semua terkesima. "Ya, itu gelar yang pantas. Gelar yang bagus!" seru mereka. Akhirnya mereka pun menyetujuinya. Sejak itu mereka memanggil Elang Jawa, raja mereka, dengan sebutan Rajawali, yang berarti penguasa yang melindungi.

Pada suatu pagi yang cerah, Elang Jawa atau yang kini bergelar Rajawali itu terbang tinggi di udara. Dilihatnya dari angkasa, kawasan hutan tempat dia dan rakyatnya tinggal itu bagai bentangan permadani hijau yang indah. "Sungguh menakjubkan!" katanya. "BEnar-benar indah!"

Dilihatnya sesuatu yang mencurigakan di bawah sana. Ia mendekat, lalu kembali mengangkasa tinggi dan turun menukik tajam. "Kaooook... kaooookk...!" teriaknya. "Ayooo semuanya! segera tinggalkan temmpat ini! Bahayaaaa! Banyak pemburu bergrak kemariiii! Selamatkan diri kaliaaaan!"

Tanpa banyak bertanya, segenap burung pun terbang berhamburan menyelamatkan diri. Blaaak... blaaakk... byaaarrr... Terdengan kepak sayap mereka memecah udara.

Bersamaan dengan itu. Seeeettt...! Seeettt...! terdengan desingan banyak anak panah yang dilepaskan oleh pemburu. Mereka terus mengejar, tapi segenap burung sudah terbang jauh, sudah aman dari jangkauan anak panah para pemburu.

"Tidak salah kita memilih Elang Jawa sebagi raja kita." kata gelatik. "Dia benar-benar bisa diandalkan. Kita merasa tenteram dan aman bersamanya. "Tak salah, ya," tambah kutilang, "kita menggelarinya si Rajawali."

begitulah, Elang Jawa menjadi pemimpin yang melindungi segenap rakyatnya. Matanya yang tajam mampumendeteksi bahaya yang datang megancam dirinya dan burung-burung lainnya.

Kaoookkk... kaoookkk... blaakkk... blaaaaakkk... jerit dan kepak sayapnya di udara memberi kebanggan tersendiri kepada seluruh burung yang berada di bawah perlindungannya.

TAMAT

Hikmah Cerita : Pemimpin adalah dia yang mengutamakan pelayanan terhadap anak buahnya. Melindungi dan mengayomi anggota-anggotanya.

Fakta Unik
Elang mampu melihat mangsa dari ketinggian 1000 meter atau 1 kilometer.
Masa hidup elang cukup panjang, seusia manusia, bisa 60 tahun, bahkan lebih.
Elang bisa terbang secepat motor balap, mencapai 185 km/jam.

Pengarang Naskah : Bilif Abduh


Sabtu, 25 Februari 2017

Trauma Si Ratu Lebah



Ratu dari koloni lebah yang hidup di lereng bukit dkawasan hutan di Lampung itu terlihat sedih. Pandangannya lekat pada sarang yang kini terpaksa harus ditinggalkannya. Padahal, anak buahnya dengan bersusah payah, baru saja menyelesaikan pembangunan sarang tersebut. Dan dia sendiri, sebagai ratu rasanya belum puas tinggal di sarang karya anak buahnya itu."Sudahlah Ratu, mari kita pergi dari sini. Kita tinggalkan tempat ini," ajak lebah pejantan, pasangannya. 

Asap putih pekat datang bergulung-gulung bagai awan akibat terbakarnya lahan hutan membuat koloni lebah itu menyingkir, meninggalkan sarang mereka.

"Aduuuh... perih sekali mataku," teriak seekor lebah kecil. "Huaaa... Huhuhu...," dia menangis. Tidak hanya lebah kecil yang merasakan pedih di mata, tapi semua lebah pun merasakannya.

"KIta harus segera memerintahkan anak buah kita mencari lahan yang baru, tempat yang aman buat kita," usul lebah pejantan pada pasangannya, Ratu lebah. "Tapi dimana?" "
"Ya di mana saja, yang penting ama. Sudahlah, tak perlu bingung. Cukup perintahkan saja, dan mereka akan melaksanakan perinahmu!" Lebah pejantan meyakinkan Ratu Lebah. "Percayakan saja tugas pencarian ini kepada mereka. Semuanya pasti beres! Mereka itu ahlinya. Sudah bertahun-tahun mereka mengemban tugas seperti ini."

"Tapi untuk sementara, kita harus kemana?" 
"Kita Ke hutan di seberang sungai itu saja!"

Wuuuunggg..... Ratu Lebah pun terbang menuju hutan seberang, dan dibelakangnya beratus-ratus lebah anak buahnya mengikutinya. Dalam terjangan asap tebal itu, mereka memacu kecepatan agar segera bisa bernapas lega.

"Kamu... kamu... dan kamu," tunjuk Ratu Lebah pada tiga anak buahnya sesaat setelah ia tiba di hutan seberang. "Segera cari tempat yang paling cocok di sekitar sini untuk dibangun sarang.!"

Ketuga lebah yang ditunjuk itu segera melaksanakan perintah ratu mereka. Lebah pertama tiba di sebuah ceruk abtuan dalam gua. Lebah kedua tiba di sebuah dahan pohon nangka yang menurutnya cocok untuk bersarang. Dan lebah ketiga tiba di sebuah gubuk reyot tua.

Masing-masing segera kembali dan melaporkan hasil pengamatannya pada Ratu Lebah. "Aku yakin, tempat di gua itu aman," Kata lebah pertama. Lebah kedua tak mau kalah, "Menurutku dahan di pohon nangka itulah yang paling pas buat kita." "ah, menurutkua yang paling cocok ya, di bekas gubuk tua itu," kata lebah ketiga.

Ratu Lebah bingung memutuskan. Menurutnya, ketiga tempat itu sama-sama baik. Akhirnya ia menyerahkan keputusan itu pada rapat sesepuh lebah. Dan hasil rapat menyatakan bahwa dahan pohon nangka itu merupalan tempat yang terbaik.

"Dengan membangun sarang dekat pohon nangka, kita tak perlu repot-repot mencari sumber makan, Ratu," yakin salah satu sesepuh lebah. "Masuk akal juga," balas Ratu Lebah. Tapi, ternyata Ratu Lebah mempunyai ide sendiri. "Sebaiknya kita segera pergi dari sini! Tempat ini tak aman. Aku khawatir kembali terjadi kebakaran disini!" katanya.

Rupanya Ratu Lebah masih trauma dengan asap akibat kebakaran hutan itu. Ia segera terbang, diikuti segenap anggota koloninya. Mereka harus terbang dan terbang dari satu tempat ke tempat yang lain. Terbang bermil-mil jauhnya, tanpa arah dan tujuan yang jelas, membuat beberapa anak buahnya lelah dan jatuh sakit. Tapi, Ratu Lebah terus terbang, demi satu tujuan, yakni tempat yang paling aman untuk membangun sarang.

Akhirnya dia sendiri kelelahan, begitu pun seluruh anak buahnya. Pada akhirnya pula, tak ada satu pun sarang yang dibangun. Kelelahan mendera mereka. Ratu Lebah itu telah membuat satu keputusan yang salah, keputusan yang dipicu oleh ketakutannya sendiri.

TAMAT

Hikmah Cerita : Peristiwa dan kejadian buruk bisa saja datang dalam hidup kita. Tapi, semua itu jangan sampai membuat kita putus harapan. Kita harus yakin dengan masa depan yang lebih baik.

Fakta Unik :
Lebah hidup secara berkoloni. Dalam satu koloni terdapat Lebah ratu, lebah pejantan dan lebah pekerja
Sarang lebah adalah tempat yang paling steril di bumi
Hampir semua hasil perlebahan, seperti masu, royal jelly, dan propolis mengandung zat yang sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia.

Pengarang Naskah : Bilif Abduh

Kamis, 23 Februari 2017

Lumba-Lumba Yang Terdampar








Semburat sinar matahari yang masih muda belum cukup menghangatkan perairan di selatan pulau yang cantik itu. Sebagian besar penghuni disana, seperti ikan Marlyn, Tenggiri, Cakalang, dan Paus Bongkok masih bermalas-malasan. Mereka enggan memulai aktivitas pagi seperti biasanya. Arus dingin yang datang dari timur, membuat mereka merapatkan tubuh satu sama lain, mencari kehangatan.

"Hii... dingin sekali sih pagi ini," ujar Tenggiri. "Betul," jawab Paus Bongkok yang berada tak jauh darinya. "Huaaah...," Paus Bongkok menguap lebar. Rasa kantuk masih menggelayutinya. "Mau tidur lagi, ah," katanya.

Tapi sepagi itu, Dolpino, seekor lumba-lumba yang  gesit dan lincah sudah berlari berkejaran ke sana kemari dengan saudaranya, Dolpina. "Ayo, kejar aku!" katanya. Dolpina meluncur denagn cepat dibelakangnya, mencoba mengejarnya. Tapi, Dolpino sudah melesat lebih cepat menjauhinya.

Tenggiri, Cakalang, dan Marlyn merasa terganggu. Tapi, mereka enggan untuk mengingatkan kedua lumba-lumba itu. Dolpino dan saudaranya mudah sekali tersinggung dan kerap bermasalah dengan ikan -ikan yang lain. Ketiga ikan itu tak mau berurusan dengan Dolpino dan Dolpina.

Dolpino dan Dolpina terus bermain kejar-kejaran. Kini bahkan lebih seru. "Kalian ini harus hati-hati! Lagi pula, masak masih pagi seperti ini main kejar-kejaran?" kata Paus Bongkok yang merasa terusik ketika kedua lumba-lumba itu menyerempetnya. "Kalian mengganggu tidurku saja!"

DIperingatkan seperti itu bukannya meminta maaf, Dolpino dan Dolpina justru geram. Mereka justru tersinggung. "Ah, dasar pemalas!" kata mereka. Tidak cukup itu, mereka bahkan menghina dan menjelek-jelekkan si Paus Bongkok dengan kata yang pedas.

Paus Bongkok tersulut emosinya mendengar kata-kata itu. Hampir saja ia marah. Tapi, ia bisa menguasai dirinya. "Sudahlah, pergi sana! aku tak ingin berurusan dengan kalian. Tapi, Asal kalian tahu, kalian tak akan pernah bisa hidup tanpa yang lain! Merasa paling baik da pintar sendiri! Kelak kalian pasti membutuhkan kami yang sering kalian hina dan kalian jelek-jelekkan!" Seru Paus Bongkok.

"Ah, masa sih?" Kata Dolpino. "Tenang saja, Bongkok. Kami pasti bisa mengatasi kesulitan kami sendiri, hahaha!" Lalu mereka berdua meluncur cepat meninggalkan si Paus Bongkok. "Ayp Pina, kita berenang keujung pulau sana!" "Baiklah, Pino"

Laut yang tenang,berhias gelombang-gelombang kecil membuat kedua lumba-lumba itu bersemangat. Mereka melompat-lompat ke udara, melayang keluar air, dan memacu kecepatan hingga batas tertinggi. "Woiii.. asyiknya," teriak Dolpino. "WOiii... senangnya," Dolpina tak mau kalah.

Bukkk... pada sebuah lompatan tinggi, tubuh Dolpino dan DOlpina mendarat disebuah pulau pasir. "Aduh, sakitnya," jerit Dolpino. "Kepalaku pening, Pino," kata Dolpina. "Wah, celaka, kita bisa mati kekeringan disini, Pino! Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Dolpino tak menjawab. Ia sendiri tak tahu apa yang harus dilakukannya.

Dolpina terus berteriak-teriak. Ia mulai kepanasan. Apalagi matahari sudah mulai meninggi. "Pino... Pino... Panasnya! Kulitku seperti terbakar!" Dolpina menggeliat-geliat. Kedua Lumba-lumba itu terus berteriak-teriak, "Toloong... toloooong...!"

Beberapa waktu lamanya tak ada yang mendengar dan menolong mereka.. Sampai kemudian terlihat oleh mereka, sebuah semburan air yang memancar keudara, Brusshhh... brushhh.., dan sebuah ekor besar menghantam laut, brassshhh... brasshhh...! "Itu pasti si Paus Bongkok!" seru DOlpino. Dengan sisa-sisa tenaganya, DOlpino dan Dolpina berteriak sekuat-kuatnya, "Haiiii... Paus Bongkok, kemarilah! Tolonglah kami!"

Mula-mula, Paus Bongkok tak yakin dengan yang didengarnya. Tapi, perlahan-lahan ia mendekat. DIlihatnya DOlpino dan Dolpina yang hampir mati kepanasan. Paus Bongkok segera mengerahkan segenap kekuatannya untuk menolong limba-lumba itu. Gelombang besar yang dibuatnya dari gerakan tubh dan sirip ekornya mampu membanjiri pulau pasir tersebut. Akhirnya selamatlah Dolpino dan Dolpina.

"Terima kasih ya, Paus Bongkok," kata mereka berdua. "Maafkan kami telah banyak mnghina dan menjelek-jelekkanmu. Apa jadinya kami tanpa pertolonganmu? sekali lagi terima kasih, ya!"

Sejak saat itu DOlpino dan Dolpino tak pernah lagi menjelek-jelekkan si Paus Bongkok. Mereka menjadi lumba-lumba yang baik dan bersahabat dengan siapa saja.

TAMAT

Hikmah Cerita : Di dunia ini tak adas satupun orang yang bisa hidup sendiri. SEkaya, secantik, atau sehebat apapun seseorang, dia tetap memerlukan bantuan dan pertolongan orang lain

Fakta Unik :
Lumba-lumba meski hidup dilaut, tetapi dia bukan ikan. Ia adalah Mamalia (HEwan menyusui)
Lumba-lumba bernaas dengan paru-paru
Lumba-lumba mendeteksi ruang dan benda di sekitarnya bukan dengan mata, melainkan dengan getaran suara.

Pengarang naskah : BIlif Abduh


Selasa, 21 Februari 2017

Cendrawasih




Dahulu, ada seorang wanita tua hidup bersama seekor anjing betina di pegunungan Bumberi, Fak-fak. Suatu hari mereka mencari makanan ke hutan. Mereka sampai di suatu tempat yang di tumbuhi pohon pandan yang sedang berbuah. Perempuan itupun lalu mengambil buah pandang, dan memberikannya kepada anjing betina. Dengan lahapnya anjing betina memakan buah pandan itu.

Singkat cerita, mendadak perut anjing itu membesar seperti sedang hamil. Dan akhirnya melahirkan seekor anak anjing. Kemudian si perempuan tua pun ingin pula memakan buah pandan itu, dikarenakan dirinya tidak mempunyai anak. Maksud hati agar bisa juga hamil seperti anjing betinanya setelah memakan buah pandan tersebut. 

Maka benarlah, ia pun hamil dan akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki. Kemudian ia memberi nama kepada anaknya tersebut dengan nama Kweiya. 

Setelah Kweiya dewasa, ia membuka ladang baru di hutan itu. Peralatan yang diginakannya hanya kapak batu yang berbentuk pahat. Pada suatu hari ketika Kweiya sedang menebang pohon, tiba-tiba ada seorang pria yang mendekatinya. Selanjtnya pria itu membrikan kapak besi kepada Kweiya. Dengan alat itu, kini ia dapat menebang pohon dengan cepat.

Pada saat makan siang, Kweiya memperkenalkan pria itu kepada ibunya. Setelah makanan tersedia, ibunya memanggil Kweiya, dan Kweiya pun mengajak serta pria tua tadi untuk makan bersama mereka. Karena pria itu berjasa dalam hidupnya, si ibu menerima kehadiran pria tersebut. Dan akhirnya singkat cerita mereka pun jadi suami istri.

Beberapa tahun kemudian lahirlah dua orang anak. Aak-anak itu dianggap sebagai adik-adik Kweiya. Namun, eratnya persaudaraan mereka bertiga makin hari makin memudar gara-gara rasa iri kedua adik-adiknya terhadap Kweiya. 

Hingga pada suatu hari mereka mengeroyok Kweiya. Perkelahian yang tak seimbang itu membuat tubuh Kweiya luka-luka. KWeiya bersembunyi disudut rumah, sambil memintal tali dari kulit  pohon Pogak Nggein. Ketika orang tua mereka pulang, mereka diam saja. Adik perempuan yang palin bungsu menceritakan kejadian itu kepada kedua orangtua mereka. Dipanggilnya Kweiya, tetapi tidak kunjung ada sahutan.

Tiba-tiba terdengar suara yang berbunyi "eek..ekk..ekk...ekk" sambil menjawab, Kweiya yang berubah menjadi burung menyisipkan benang pintalannya pada kakinya lalu melonat-loncat di atas rumah dan berpindah ke dahan pohon dekat rumahnya. Ibunya menangis sambil meminta bagian untuknya.

Kata Kweiya bagian untuk ibunya ada ada pada koba-koba (payung tikar), disudut rumah. Ibunya pun segera mencari koba-koba. Benag pintalan itu disisipkan pada ketiaknya, lalu terbang ke atas dahan pohon yang tinggi. Kweiya dan ibunya bertengger di atas pohon asmbil berkicau dengan suara "wong, wong, wong, wong, ko, ko, ko, wo, wik!!"

Maka sejak saat itulah burung Cendrawasih ada di dunia. Dan cara membedakan burung cendrawasih jantan dan betina yaitu dengan melihat bila berbulu panjang maka itu cendrawasih jantan yang disebut Sianga. Dan burung cendrawasih betina bulunya pendek disebut juga Hanggam Tombor.

TAMAT

(Cerita Rakyat Papua Barat, disadur dari "Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara")

Senin, 20 Februari 2017

Asal Mula Ikan Duyung



Dahulu hiduplah pasangan Suami istri dengan tiga anak yang masih kecil, Pagi itu mereka makan nasi dengan ikan. Masing-masing memperoleh bagiannya. Ikan yang dihidangkan rupanya tidak habis. Sebelum berangkat ke kebun, si suami berpesan kepada isterinya. "Bu, tolong simpan ikan yang tersisa untuk makan nanti sore". "Baik, pak," jawab si istri.

Pada siang harinya si istri dan ketiga anaknya makan siang bersama. TIba-tiba si bungsu menangis, ingin ikan yang masih tersimpan di lemari. Dengan sabar ibunya mencoba memberi pengertian, "nak, ikan itu untuk makan ayah nanti sore". Entah apa yang terjadi si bungsu malah menangis sekeras-kerasnya. Akhirnya, sisa ikan itu diberikan kepada si bungsu. Seketika itu juga dia berhenti menangis.

Bekerja seharian membuat si ayah begitu lapar dan lelahnya. Terbayang olehnya, nanti sore ia akan kembali makan dengan lauk ikan. Dengan cekatan si ibu menghidangkan makanan. Namun karena tidak melihat sisa ikan tadi pagi, raut muka suaminya langsung berubah masam.

"Bu, mana sisa ikan tadi pagi?" tanya si ayah. "Maaf yah, tadi siang si bungsu menangis ingin makan dengan lauk ikan" jawab istrinya. akan tetapi bukannya mengerti dengan watak anak bungsunya, sang suami malah terlihat begitu marah. . Saat itu juga istrinya dipaksa mencari ikan dilaut. "Ibu tidak boleh pulang kerumah sampai mendapat ikan yang banyak, sebagai pengganti ikan yang dimakan si bungsu", kata suaminya tanpa belas kasihan.

Si ibu terpaksa pergi dengan rasa sedih dan sakit hati. Ia begitu berat meninggalkan ketiga anaknya, khususnya si bungsu yang masih menyusu. Sudah lama si Ibu belum juga kembali kerumah. Ketiga anak yang masih kecil itu begitu merindukan ibunya. Mereka mencari ibunya ke pinggir laut. Terus saja mereka memanggil-manggil ibunya. Proses pencarian hampir mustahil, karena tidak seorang pun ada disitu. 

Sungguh ajaib, si ibu tiba-tiba muncul dari laut. Dihampirinya si bungsu, dan segera disusinya.. SI ibu berpesan agar mereka kembali kerumah. Kata si ibu tidak lama lagi ia akan pulang. Mereka mematuhi perintah ibunya dan segera pulang. Semalaman mereka menunggu si ibu. Namun, ibu mereka tak juga kunjung datang. Kecemasan akan nasib ibu mereka membuat mereka kembali lagi ke laut keesokan harinya.

"Bu, pulanglah kerumah,...! Si bungsu ingin menyusu" ujar si sulung ketika tiba dipinngir laut. Ibu mereka pun muncul dari laut. LAlu disusinya si bungsu. Barulah mereka melihat ada perubahan pada tubuh ibu mereka. Ada sisik disekujur tubuhnya. Rasa suka cita sirna, berganti rasa ragu dan takut.

"Sini, bungsu, ibu akan menyusuimu," bujuk ibu mereka. "tidak,! kau bukan ibu kami!" jawab si sulung sambil menarik adik-adiknyameninggalkan tepi laut. MEreka pun terus menyusuri pantai tanpa tujuan yang jelas. Tiap kali memanggil si ibu, tiap itu pula muncul si ibu dengan tubuh yang disesaki sisik ikan. Akhirnya, ibu pun menjadi ikan duyung. Separuh tubuhnya berwujud manusia dan separuhnya lagi berwujud ikan.

TAMAT

(Cerita Rakyat Sulawesi Tengah, disadur dari "Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara)

Minggu, 19 Februari 2017

Prasangka Si Bangau


Sudah sesiang ini, tapi langit tampak muram. Matahari belum juga menunjukkan wajahnya, terhalang oleh mendung hitam yang tebal. Embusan angin barat yang cukup kencang membuat ranting-ranting bakau bergoyang tak tentu arah.

Kegidupan di muara Bengawan Solo berjalan seperti biasa. Burung-burung yang bersarang di ranting dan dahan bakau telah meninggalkan sarang mereka, mencari makan. Di salah satu ranting bakau disana, tampak sepasang bangau yang gelisah. Terlihat si pejantan yang ragu untuk meninggalkan istrinya. Sementara pasangannya seolah-olah tak siap melepas suaminya pergi mencari makan.

"Lihatlah disana, suamiku!" kata istrinya. "Di mana?" "Di pohon itu! Dua pohon dari sini!" Terlihat oleh suaminya seekor gagak besar tengah bertengger dengan angkuhnya disana. "Dari gelagatnya, sepertinya ia bukan gagak yang baik," kata suaminya.

"Ia, aku juga berpikir begitu," jawab istrinya. "Dari kemarin ia terus menatap tajam ke sarang kita ini. Sepertinya ia mengincar telur, dan anak kita yang kecil ini." "ah, gawat kalau begitu. Tapi tenanglah, aku akan selalu berada disisimu." "Tapi, bagamana dengan anak kita? akan kita kasih makan apa kalau kamu tak segera pergi mencari makan?"

Ciiit... ciiit.. ciiit... suara bayi bangau itu mengejutkan mereka berdua. "Lihatlah bayi kita, rupanya ia sudah kelaparan," istri bangau terlihat panik. "Ayo berangkatlah! segera cari makan buat anak kita!" "tapi bagaimana dengan gagak itu nanti? Bagaimana kalau ia menyerangmu? menyerang bayi kita dan mencuri telur kita?"

Bangau jantan itu kembali melihat kearah gagak hitam besar yang masih bertengger di tempatnya dan menatap lurus-lurus kesarang mereka. Ciiit... ciiit... ciittt... bangau kecil  kembali bercicit. Ia semakin kelaparan. "Ayo suamiku, segeralah berangkat! kasihan anak kita ini!"

Akhirnya bangau jantan itu pun berangkat juga. Bersamaan dengan kepakan sayapnya meningalkan sarangnya, didengarnya gagak hitam besar itu berteriak-teriak "kaaakk... kaaakkk...!" teriakan yang membuat hatinya semakin tak tenang meninggalkan istri, anak, dan telur calon anak-anaknya di sarangnya.

Sepeninggal suaminya, bangau betina bersikap penuh waspada. Ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan terburuk yang dilakukan gagak hitam besar itu. Ia rela mengorbankan nyawanya demi anak dan telur calon anak-anaknya. Berkali-kali ia membentangkan sayapnya lebar-lebar, mendongak keatas seolah memamerkan kekuatannya kepada gagak hitam besar tersebut.

"Ayo kemarilah!" katanya. "kamu kira aku takut padamu?" Gagak tersebut menukik tajam, melesat bagai kilat. Ia mendarat tepat dibelakang bangau betina itu. Tendangan kerasnya berhasil menjatuhkan ular yang hendak mematuk bangau betina. Bangau tersebut terkejut. Rupanya ia telah salah duga. Ia telah berprasangka buruk terhadap gagak besar hitam itu.

"Ah, rupanya kamu justru ingin menyelamatkanku, ya?" katanya, malu-malu. "maaf ya, maafkan aku." Ketika suaminya tiba, bangau betina tersebut menjelaskan semuanya kepada suaminya. "Kita telah berutang budi kepada gagak itu," katanya. "Aku benar-benar menyesal telah menuduhnya yang bukan-bukan. Sejak kejadian itu, bangau dan gagak berteman baik. Mereka hidup bertetangga dengan damai dan saling menghormati.

TAMAT

Hikmah Cerita : Janganlah berprasangka buruk terhadap orang lain. Prasangka buruk hanya akan menciptakan rasa tidak nyaman, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Fakta Unik :
Bangau merupakan burung pantai migran
Bangau tak memiliki organ suara sehingga tak bisa bersuara. Ia berkomunikasi dengan cara memadukan paruhnya dengan pasangannya.

Pengarang naskah : Bilif Abduh

Perdamaian Kunang-Kunang Dan Jangkrik

D ulu, jika malam tiba, padang rerumputan yang diselingi aliran sungai itu begitu meriah. Padang itu memamerkan harmonisasi suara dan gemerl...