Senin, 27 Februari 2017

Elang Jawa Menjadi Raja




Seperti yang sudah di duga, rapat para burung memutuskan bahwa Elang Jawa akan menjadi raja untuk melindungi dan melayani mereka.

Alap-alap, sriti dan gagak yang mengusung pencalonan Elang Jawa begitu bahagia dan gembira. Calon mereka disetujui oleh sebagian besar burung. Mereka bertiga yakin bahwa Elang Jawa akan mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi mereka, khususnya dari sergapan tangan jahil manusia yang suka memburu mereka.

"Rasanya hari ini akan jadi har yang paling bersejarah buat kita semua," kata kutilang. "Betul tidaaak?"
"Betuuuuull!" jawab yang lain.
"Kita memiliki raja yang gagah perkasa, yang siap melindungi kita semua. Tapi, ada yang kita lupakan," kata kutilang.
"Apa itu?" tanya gagak, tak sabar
"Kita belum memberi gelar yang pantas kepada raja kita."
"Oh iya, ya, kok kita semua bisa lupa."
"Terus bagaimana inni? Gelar apa yang pantas kita berikan untk raja baru kita?"

Para burung kembali merapat, merundingkan tentang pemberian gelar itu. "Bagaimana kalau kita panggil si Perkasa?" usul gelatik. Peking tak mau kalah. "Bagaimana kalau si Cakar Maut?" katanya

Rapat pemberian gelar itu berlangsung alot. Masing-masing mengusulkan gelar mereka snediri-sendiri. Alap-alap sebagai sesepuh menengahi kebutnuan rapat itu. "Bagaimana kalau kita kasih gelar Rajawali?" usulnya.

"Rajawali?" mereka semua terkesima. "Ya, itu gelar yang pantas. Gelar yang bagus!" seru mereka. Akhirnya mereka pun menyetujuinya. Sejak itu mereka memanggil Elang Jawa, raja mereka, dengan sebutan Rajawali, yang berarti penguasa yang melindungi.

Pada suatu pagi yang cerah, Elang Jawa atau yang kini bergelar Rajawali itu terbang tinggi di udara. Dilihatnya dari angkasa, kawasan hutan tempat dia dan rakyatnya tinggal itu bagai bentangan permadani hijau yang indah. "Sungguh menakjubkan!" katanya. "BEnar-benar indah!"

Dilihatnya sesuatu yang mencurigakan di bawah sana. Ia mendekat, lalu kembali mengangkasa tinggi dan turun menukik tajam. "Kaooook... kaooookk...!" teriaknya. "Ayooo semuanya! segera tinggalkan temmpat ini! Bahayaaaa! Banyak pemburu bergrak kemariiii! Selamatkan diri kaliaaaan!"

Tanpa banyak bertanya, segenap burung pun terbang berhamburan menyelamatkan diri. Blaaak... blaaakk... byaaarrr... Terdengan kepak sayap mereka memecah udara.

Bersamaan dengan itu. Seeeettt...! Seeettt...! terdengan desingan banyak anak panah yang dilepaskan oleh pemburu. Mereka terus mengejar, tapi segenap burung sudah terbang jauh, sudah aman dari jangkauan anak panah para pemburu.

"Tidak salah kita memilih Elang Jawa sebagi raja kita." kata gelatik. "Dia benar-benar bisa diandalkan. Kita merasa tenteram dan aman bersamanya. "Tak salah, ya," tambah kutilang, "kita menggelarinya si Rajawali."

begitulah, Elang Jawa menjadi pemimpin yang melindungi segenap rakyatnya. Matanya yang tajam mampumendeteksi bahaya yang datang megancam dirinya dan burung-burung lainnya.

Kaoookkk... kaoookkk... blaakkk... blaaaaakkk... jerit dan kepak sayapnya di udara memberi kebanggan tersendiri kepada seluruh burung yang berada di bawah perlindungannya.

TAMAT

Hikmah Cerita : Pemimpin adalah dia yang mengutamakan pelayanan terhadap anak buahnya. Melindungi dan mengayomi anggota-anggotanya.

Fakta Unik
Elang mampu melihat mangsa dari ketinggian 1000 meter atau 1 kilometer.
Masa hidup elang cukup panjang, seusia manusia, bisa 60 tahun, bahkan lebih.
Elang bisa terbang secepat motor balap, mencapai 185 km/jam.

Pengarang Naskah : Bilif Abduh


Sabtu, 25 Februari 2017

Trauma Si Ratu Lebah



Ratu dari koloni lebah yang hidup di lereng bukit dkawasan hutan di Lampung itu terlihat sedih. Pandangannya lekat pada sarang yang kini terpaksa harus ditinggalkannya. Padahal, anak buahnya dengan bersusah payah, baru saja menyelesaikan pembangunan sarang tersebut. Dan dia sendiri, sebagai ratu rasanya belum puas tinggal di sarang karya anak buahnya itu."Sudahlah Ratu, mari kita pergi dari sini. Kita tinggalkan tempat ini," ajak lebah pejantan, pasangannya. 

Asap putih pekat datang bergulung-gulung bagai awan akibat terbakarnya lahan hutan membuat koloni lebah itu menyingkir, meninggalkan sarang mereka.

"Aduuuh... perih sekali mataku," teriak seekor lebah kecil. "Huaaa... Huhuhu...," dia menangis. Tidak hanya lebah kecil yang merasakan pedih di mata, tapi semua lebah pun merasakannya.

"KIta harus segera memerintahkan anak buah kita mencari lahan yang baru, tempat yang aman buat kita," usul lebah pejantan pada pasangannya, Ratu lebah. "Tapi dimana?" "
"Ya di mana saja, yang penting ama. Sudahlah, tak perlu bingung. Cukup perintahkan saja, dan mereka akan melaksanakan perinahmu!" Lebah pejantan meyakinkan Ratu Lebah. "Percayakan saja tugas pencarian ini kepada mereka. Semuanya pasti beres! Mereka itu ahlinya. Sudah bertahun-tahun mereka mengemban tugas seperti ini."

"Tapi untuk sementara, kita harus kemana?" 
"Kita Ke hutan di seberang sungai itu saja!"

Wuuuunggg..... Ratu Lebah pun terbang menuju hutan seberang, dan dibelakangnya beratus-ratus lebah anak buahnya mengikutinya. Dalam terjangan asap tebal itu, mereka memacu kecepatan agar segera bisa bernapas lega.

"Kamu... kamu... dan kamu," tunjuk Ratu Lebah pada tiga anak buahnya sesaat setelah ia tiba di hutan seberang. "Segera cari tempat yang paling cocok di sekitar sini untuk dibangun sarang.!"

Ketuga lebah yang ditunjuk itu segera melaksanakan perintah ratu mereka. Lebah pertama tiba di sebuah ceruk abtuan dalam gua. Lebah kedua tiba di sebuah dahan pohon nangka yang menurutnya cocok untuk bersarang. Dan lebah ketiga tiba di sebuah gubuk reyot tua.

Masing-masing segera kembali dan melaporkan hasil pengamatannya pada Ratu Lebah. "Aku yakin, tempat di gua itu aman," Kata lebah pertama. Lebah kedua tak mau kalah, "Menurutku dahan di pohon nangka itulah yang paling pas buat kita." "ah, menurutkua yang paling cocok ya, di bekas gubuk tua itu," kata lebah ketiga.

Ratu Lebah bingung memutuskan. Menurutnya, ketiga tempat itu sama-sama baik. Akhirnya ia menyerahkan keputusan itu pada rapat sesepuh lebah. Dan hasil rapat menyatakan bahwa dahan pohon nangka itu merupalan tempat yang terbaik.

"Dengan membangun sarang dekat pohon nangka, kita tak perlu repot-repot mencari sumber makan, Ratu," yakin salah satu sesepuh lebah. "Masuk akal juga," balas Ratu Lebah. Tapi, ternyata Ratu Lebah mempunyai ide sendiri. "Sebaiknya kita segera pergi dari sini! Tempat ini tak aman. Aku khawatir kembali terjadi kebakaran disini!" katanya.

Rupanya Ratu Lebah masih trauma dengan asap akibat kebakaran hutan itu. Ia segera terbang, diikuti segenap anggota koloninya. Mereka harus terbang dan terbang dari satu tempat ke tempat yang lain. Terbang bermil-mil jauhnya, tanpa arah dan tujuan yang jelas, membuat beberapa anak buahnya lelah dan jatuh sakit. Tapi, Ratu Lebah terus terbang, demi satu tujuan, yakni tempat yang paling aman untuk membangun sarang.

Akhirnya dia sendiri kelelahan, begitu pun seluruh anak buahnya. Pada akhirnya pula, tak ada satu pun sarang yang dibangun. Kelelahan mendera mereka. Ratu Lebah itu telah membuat satu keputusan yang salah, keputusan yang dipicu oleh ketakutannya sendiri.

TAMAT

Hikmah Cerita : Peristiwa dan kejadian buruk bisa saja datang dalam hidup kita. Tapi, semua itu jangan sampai membuat kita putus harapan. Kita harus yakin dengan masa depan yang lebih baik.

Fakta Unik :
Lebah hidup secara berkoloni. Dalam satu koloni terdapat Lebah ratu, lebah pejantan dan lebah pekerja
Sarang lebah adalah tempat yang paling steril di bumi
Hampir semua hasil perlebahan, seperti masu, royal jelly, dan propolis mengandung zat yang sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia.

Pengarang Naskah : Bilif Abduh

Kamis, 23 Februari 2017

Lumba-Lumba Yang Terdampar








Semburat sinar matahari yang masih muda belum cukup menghangatkan perairan di selatan pulau yang cantik itu. Sebagian besar penghuni disana, seperti ikan Marlyn, Tenggiri, Cakalang, dan Paus Bongkok masih bermalas-malasan. Mereka enggan memulai aktivitas pagi seperti biasanya. Arus dingin yang datang dari timur, membuat mereka merapatkan tubuh satu sama lain, mencari kehangatan.

"Hii... dingin sekali sih pagi ini," ujar Tenggiri. "Betul," jawab Paus Bongkok yang berada tak jauh darinya. "Huaaah...," Paus Bongkok menguap lebar. Rasa kantuk masih menggelayutinya. "Mau tidur lagi, ah," katanya.

Tapi sepagi itu, Dolpino, seekor lumba-lumba yang  gesit dan lincah sudah berlari berkejaran ke sana kemari dengan saudaranya, Dolpina. "Ayo, kejar aku!" katanya. Dolpina meluncur denagn cepat dibelakangnya, mencoba mengejarnya. Tapi, Dolpino sudah melesat lebih cepat menjauhinya.

Tenggiri, Cakalang, dan Marlyn merasa terganggu. Tapi, mereka enggan untuk mengingatkan kedua lumba-lumba itu. Dolpino dan saudaranya mudah sekali tersinggung dan kerap bermasalah dengan ikan -ikan yang lain. Ketiga ikan itu tak mau berurusan dengan Dolpino dan Dolpina.

Dolpino dan Dolpina terus bermain kejar-kejaran. Kini bahkan lebih seru. "Kalian ini harus hati-hati! Lagi pula, masak masih pagi seperti ini main kejar-kejaran?" kata Paus Bongkok yang merasa terusik ketika kedua lumba-lumba itu menyerempetnya. "Kalian mengganggu tidurku saja!"

DIperingatkan seperti itu bukannya meminta maaf, Dolpino dan Dolpina justru geram. Mereka justru tersinggung. "Ah, dasar pemalas!" kata mereka. Tidak cukup itu, mereka bahkan menghina dan menjelek-jelekkan si Paus Bongkok dengan kata yang pedas.

Paus Bongkok tersulut emosinya mendengar kata-kata itu. Hampir saja ia marah. Tapi, ia bisa menguasai dirinya. "Sudahlah, pergi sana! aku tak ingin berurusan dengan kalian. Tapi, Asal kalian tahu, kalian tak akan pernah bisa hidup tanpa yang lain! Merasa paling baik da pintar sendiri! Kelak kalian pasti membutuhkan kami yang sering kalian hina dan kalian jelek-jelekkan!" Seru Paus Bongkok.

"Ah, masa sih?" Kata Dolpino. "Tenang saja, Bongkok. Kami pasti bisa mengatasi kesulitan kami sendiri, hahaha!" Lalu mereka berdua meluncur cepat meninggalkan si Paus Bongkok. "Ayp Pina, kita berenang keujung pulau sana!" "Baiklah, Pino"

Laut yang tenang,berhias gelombang-gelombang kecil membuat kedua lumba-lumba itu bersemangat. Mereka melompat-lompat ke udara, melayang keluar air, dan memacu kecepatan hingga batas tertinggi. "Woiii.. asyiknya," teriak Dolpino. "WOiii... senangnya," Dolpina tak mau kalah.

Bukkk... pada sebuah lompatan tinggi, tubuh Dolpino dan DOlpina mendarat disebuah pulau pasir. "Aduh, sakitnya," jerit Dolpino. "Kepalaku pening, Pino," kata Dolpina. "Wah, celaka, kita bisa mati kekeringan disini, Pino! Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Dolpino tak menjawab. Ia sendiri tak tahu apa yang harus dilakukannya.

Dolpina terus berteriak-teriak. Ia mulai kepanasan. Apalagi matahari sudah mulai meninggi. "Pino... Pino... Panasnya! Kulitku seperti terbakar!" Dolpina menggeliat-geliat. Kedua Lumba-lumba itu terus berteriak-teriak, "Toloong... toloooong...!"

Beberapa waktu lamanya tak ada yang mendengar dan menolong mereka.. Sampai kemudian terlihat oleh mereka, sebuah semburan air yang memancar keudara, Brusshhh... brushhh.., dan sebuah ekor besar menghantam laut, brassshhh... brasshhh...! "Itu pasti si Paus Bongkok!" seru DOlpino. Dengan sisa-sisa tenaganya, DOlpino dan Dolpina berteriak sekuat-kuatnya, "Haiiii... Paus Bongkok, kemarilah! Tolonglah kami!"

Mula-mula, Paus Bongkok tak yakin dengan yang didengarnya. Tapi, perlahan-lahan ia mendekat. DIlihatnya DOlpino dan Dolpina yang hampir mati kepanasan. Paus Bongkok segera mengerahkan segenap kekuatannya untuk menolong limba-lumba itu. Gelombang besar yang dibuatnya dari gerakan tubh dan sirip ekornya mampu membanjiri pulau pasir tersebut. Akhirnya selamatlah Dolpino dan Dolpina.

"Terima kasih ya, Paus Bongkok," kata mereka berdua. "Maafkan kami telah banyak mnghina dan menjelek-jelekkanmu. Apa jadinya kami tanpa pertolonganmu? sekali lagi terima kasih, ya!"

Sejak saat itu DOlpino dan Dolpino tak pernah lagi menjelek-jelekkan si Paus Bongkok. Mereka menjadi lumba-lumba yang baik dan bersahabat dengan siapa saja.

TAMAT

Hikmah Cerita : Di dunia ini tak adas satupun orang yang bisa hidup sendiri. SEkaya, secantik, atau sehebat apapun seseorang, dia tetap memerlukan bantuan dan pertolongan orang lain

Fakta Unik :
Lumba-lumba meski hidup dilaut, tetapi dia bukan ikan. Ia adalah Mamalia (HEwan menyusui)
Lumba-lumba bernaas dengan paru-paru
Lumba-lumba mendeteksi ruang dan benda di sekitarnya bukan dengan mata, melainkan dengan getaran suara.

Pengarang naskah : BIlif Abduh


Selasa, 21 Februari 2017

Cendrawasih




Dahulu, ada seorang wanita tua hidup bersama seekor anjing betina di pegunungan Bumberi, Fak-fak. Suatu hari mereka mencari makanan ke hutan. Mereka sampai di suatu tempat yang di tumbuhi pohon pandan yang sedang berbuah. Perempuan itupun lalu mengambil buah pandang, dan memberikannya kepada anjing betina. Dengan lahapnya anjing betina memakan buah pandan itu.

Singkat cerita, mendadak perut anjing itu membesar seperti sedang hamil. Dan akhirnya melahirkan seekor anak anjing. Kemudian si perempuan tua pun ingin pula memakan buah pandan itu, dikarenakan dirinya tidak mempunyai anak. Maksud hati agar bisa juga hamil seperti anjing betinanya setelah memakan buah pandan tersebut. 

Maka benarlah, ia pun hamil dan akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki. Kemudian ia memberi nama kepada anaknya tersebut dengan nama Kweiya. 

Setelah Kweiya dewasa, ia membuka ladang baru di hutan itu. Peralatan yang diginakannya hanya kapak batu yang berbentuk pahat. Pada suatu hari ketika Kweiya sedang menebang pohon, tiba-tiba ada seorang pria yang mendekatinya. Selanjtnya pria itu membrikan kapak besi kepada Kweiya. Dengan alat itu, kini ia dapat menebang pohon dengan cepat.

Pada saat makan siang, Kweiya memperkenalkan pria itu kepada ibunya. Setelah makanan tersedia, ibunya memanggil Kweiya, dan Kweiya pun mengajak serta pria tua tadi untuk makan bersama mereka. Karena pria itu berjasa dalam hidupnya, si ibu menerima kehadiran pria tersebut. Dan akhirnya singkat cerita mereka pun jadi suami istri.

Beberapa tahun kemudian lahirlah dua orang anak. Aak-anak itu dianggap sebagai adik-adik Kweiya. Namun, eratnya persaudaraan mereka bertiga makin hari makin memudar gara-gara rasa iri kedua adik-adiknya terhadap Kweiya. 

Hingga pada suatu hari mereka mengeroyok Kweiya. Perkelahian yang tak seimbang itu membuat tubuh Kweiya luka-luka. KWeiya bersembunyi disudut rumah, sambil memintal tali dari kulit  pohon Pogak Nggein. Ketika orang tua mereka pulang, mereka diam saja. Adik perempuan yang palin bungsu menceritakan kejadian itu kepada kedua orangtua mereka. Dipanggilnya Kweiya, tetapi tidak kunjung ada sahutan.

Tiba-tiba terdengar suara yang berbunyi "eek..ekk..ekk...ekk" sambil menjawab, Kweiya yang berubah menjadi burung menyisipkan benang pintalannya pada kakinya lalu melonat-loncat di atas rumah dan berpindah ke dahan pohon dekat rumahnya. Ibunya menangis sambil meminta bagian untuknya.

Kata Kweiya bagian untuk ibunya ada ada pada koba-koba (payung tikar), disudut rumah. Ibunya pun segera mencari koba-koba. Benag pintalan itu disisipkan pada ketiaknya, lalu terbang ke atas dahan pohon yang tinggi. Kweiya dan ibunya bertengger di atas pohon asmbil berkicau dengan suara "wong, wong, wong, wong, ko, ko, ko, wo, wik!!"

Maka sejak saat itulah burung Cendrawasih ada di dunia. Dan cara membedakan burung cendrawasih jantan dan betina yaitu dengan melihat bila berbulu panjang maka itu cendrawasih jantan yang disebut Sianga. Dan burung cendrawasih betina bulunya pendek disebut juga Hanggam Tombor.

TAMAT

(Cerita Rakyat Papua Barat, disadur dari "Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara")

Senin, 20 Februari 2017

Asal Mula Ikan Duyung



Dahulu hiduplah pasangan Suami istri dengan tiga anak yang masih kecil, Pagi itu mereka makan nasi dengan ikan. Masing-masing memperoleh bagiannya. Ikan yang dihidangkan rupanya tidak habis. Sebelum berangkat ke kebun, si suami berpesan kepada isterinya. "Bu, tolong simpan ikan yang tersisa untuk makan nanti sore". "Baik, pak," jawab si istri.

Pada siang harinya si istri dan ketiga anaknya makan siang bersama. TIba-tiba si bungsu menangis, ingin ikan yang masih tersimpan di lemari. Dengan sabar ibunya mencoba memberi pengertian, "nak, ikan itu untuk makan ayah nanti sore". Entah apa yang terjadi si bungsu malah menangis sekeras-kerasnya. Akhirnya, sisa ikan itu diberikan kepada si bungsu. Seketika itu juga dia berhenti menangis.

Bekerja seharian membuat si ayah begitu lapar dan lelahnya. Terbayang olehnya, nanti sore ia akan kembali makan dengan lauk ikan. Dengan cekatan si ibu menghidangkan makanan. Namun karena tidak melihat sisa ikan tadi pagi, raut muka suaminya langsung berubah masam.

"Bu, mana sisa ikan tadi pagi?" tanya si ayah. "Maaf yah, tadi siang si bungsu menangis ingin makan dengan lauk ikan" jawab istrinya. akan tetapi bukannya mengerti dengan watak anak bungsunya, sang suami malah terlihat begitu marah. . Saat itu juga istrinya dipaksa mencari ikan dilaut. "Ibu tidak boleh pulang kerumah sampai mendapat ikan yang banyak, sebagai pengganti ikan yang dimakan si bungsu", kata suaminya tanpa belas kasihan.

Si ibu terpaksa pergi dengan rasa sedih dan sakit hati. Ia begitu berat meninggalkan ketiga anaknya, khususnya si bungsu yang masih menyusu. Sudah lama si Ibu belum juga kembali kerumah. Ketiga anak yang masih kecil itu begitu merindukan ibunya. Mereka mencari ibunya ke pinggir laut. Terus saja mereka memanggil-manggil ibunya. Proses pencarian hampir mustahil, karena tidak seorang pun ada disitu. 

Sungguh ajaib, si ibu tiba-tiba muncul dari laut. Dihampirinya si bungsu, dan segera disusinya.. SI ibu berpesan agar mereka kembali kerumah. Kata si ibu tidak lama lagi ia akan pulang. Mereka mematuhi perintah ibunya dan segera pulang. Semalaman mereka menunggu si ibu. Namun, ibu mereka tak juga kunjung datang. Kecemasan akan nasib ibu mereka membuat mereka kembali lagi ke laut keesokan harinya.

"Bu, pulanglah kerumah,...! Si bungsu ingin menyusu" ujar si sulung ketika tiba dipinngir laut. Ibu mereka pun muncul dari laut. LAlu disusinya si bungsu. Barulah mereka melihat ada perubahan pada tubuh ibu mereka. Ada sisik disekujur tubuhnya. Rasa suka cita sirna, berganti rasa ragu dan takut.

"Sini, bungsu, ibu akan menyusuimu," bujuk ibu mereka. "tidak,! kau bukan ibu kami!" jawab si sulung sambil menarik adik-adiknyameninggalkan tepi laut. MEreka pun terus menyusuri pantai tanpa tujuan yang jelas. Tiap kali memanggil si ibu, tiap itu pula muncul si ibu dengan tubuh yang disesaki sisik ikan. Akhirnya, ibu pun menjadi ikan duyung. Separuh tubuhnya berwujud manusia dan separuhnya lagi berwujud ikan.

TAMAT

(Cerita Rakyat Sulawesi Tengah, disadur dari "Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara)

Minggu, 19 Februari 2017

Prasangka Si Bangau


Sudah sesiang ini, tapi langit tampak muram. Matahari belum juga menunjukkan wajahnya, terhalang oleh mendung hitam yang tebal. Embusan angin barat yang cukup kencang membuat ranting-ranting bakau bergoyang tak tentu arah.

Kegidupan di muara Bengawan Solo berjalan seperti biasa. Burung-burung yang bersarang di ranting dan dahan bakau telah meninggalkan sarang mereka, mencari makan. Di salah satu ranting bakau disana, tampak sepasang bangau yang gelisah. Terlihat si pejantan yang ragu untuk meninggalkan istrinya. Sementara pasangannya seolah-olah tak siap melepas suaminya pergi mencari makan.

"Lihatlah disana, suamiku!" kata istrinya. "Di mana?" "Di pohon itu! Dua pohon dari sini!" Terlihat oleh suaminya seekor gagak besar tengah bertengger dengan angkuhnya disana. "Dari gelagatnya, sepertinya ia bukan gagak yang baik," kata suaminya.

"Ia, aku juga berpikir begitu," jawab istrinya. "Dari kemarin ia terus menatap tajam ke sarang kita ini. Sepertinya ia mengincar telur, dan anak kita yang kecil ini." "ah, gawat kalau begitu. Tapi tenanglah, aku akan selalu berada disisimu." "Tapi, bagamana dengan anak kita? akan kita kasih makan apa kalau kamu tak segera pergi mencari makan?"

Ciiit... ciiit.. ciiit... suara bayi bangau itu mengejutkan mereka berdua. "Lihatlah bayi kita, rupanya ia sudah kelaparan," istri bangau terlihat panik. "Ayo berangkatlah! segera cari makan buat anak kita!" "tapi bagaimana dengan gagak itu nanti? Bagaimana kalau ia menyerangmu? menyerang bayi kita dan mencuri telur kita?"

Bangau jantan itu kembali melihat kearah gagak hitam besar yang masih bertengger di tempatnya dan menatap lurus-lurus kesarang mereka. Ciiit... ciiit... ciittt... bangau kecil  kembali bercicit. Ia semakin kelaparan. "Ayo suamiku, segeralah berangkat! kasihan anak kita ini!"

Akhirnya bangau jantan itu pun berangkat juga. Bersamaan dengan kepakan sayapnya meningalkan sarangnya, didengarnya gagak hitam besar itu berteriak-teriak "kaaakk... kaaakkk...!" teriakan yang membuat hatinya semakin tak tenang meninggalkan istri, anak, dan telur calon anak-anaknya di sarangnya.

Sepeninggal suaminya, bangau betina bersikap penuh waspada. Ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan terburuk yang dilakukan gagak hitam besar itu. Ia rela mengorbankan nyawanya demi anak dan telur calon anak-anaknya. Berkali-kali ia membentangkan sayapnya lebar-lebar, mendongak keatas seolah memamerkan kekuatannya kepada gagak hitam besar tersebut.

"Ayo kemarilah!" katanya. "kamu kira aku takut padamu?" Gagak tersebut menukik tajam, melesat bagai kilat. Ia mendarat tepat dibelakang bangau betina itu. Tendangan kerasnya berhasil menjatuhkan ular yang hendak mematuk bangau betina. Bangau tersebut terkejut. Rupanya ia telah salah duga. Ia telah berprasangka buruk terhadap gagak besar hitam itu.

"Ah, rupanya kamu justru ingin menyelamatkanku, ya?" katanya, malu-malu. "maaf ya, maafkan aku." Ketika suaminya tiba, bangau betina tersebut menjelaskan semuanya kepada suaminya. "Kita telah berutang budi kepada gagak itu," katanya. "Aku benar-benar menyesal telah menuduhnya yang bukan-bukan. Sejak kejadian itu, bangau dan gagak berteman baik. Mereka hidup bertetangga dengan damai dan saling menghormati.

TAMAT

Hikmah Cerita : Janganlah berprasangka buruk terhadap orang lain. Prasangka buruk hanya akan menciptakan rasa tidak nyaman, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Fakta Unik :
Bangau merupakan burung pantai migran
Bangau tak memiliki organ suara sehingga tak bisa bersuara. Ia berkomunikasi dengan cara memadukan paruhnya dengan pasangannya.

Pengarang naskah : Bilif Abduh

Landak Pemberani



Di ufuk barat, semburat warna merah jingga di langit menandakan bahwa malam akan datang. Di bawah temaram senja itu, di sebuah pinggiran hutan, seekor landak berjalan gontai, pulang kerumahnya setelah seharian mencari makan. Didengarnya induk kancil bergurau riang gembira bersama anak-anaknya. Begitu pula dengan kelinci. Landak melewati kedua binatang itu. Begitu mereka melihat dirinya, mereka buru-buru mendekap anak-anaknya, seperti ingin melindungi mereka dari landak tersebut.

Bukan kali ini saja mereka bersikap begitu terhadap landak. Sudah lama mereka berdua dan binatang lainnya menunjukkan yang tidak menyenangkan itu terhadap landak. Tapi, landak tetap sabar. Selama ini ia tetap cuek dan tak pernah ambil pusing dengan sikap mereka. 

Tapi lama-kelamaan, ketika kesepian begitu mendera dirinya, landak iut mulai berpikir, jangan-jangan ada yang salah dengan dirinya. Seperti sore ini, ketika ia pulang, tak ada satupun binatang di jalan yang ditemuinya menyapanya. Sekadar kata 'hai' saja tak ada yang mengucapkannya. Padahal, seperti yang ia tahu dan ia lihat sendiri, mereka semua begitu ramah satu sama lain. Saling menyapa dan berbagi sedikit makanan jika ada yang merasa lebih. Tapi terhadap dirinya, mengapa semua bersikap lain?

"Mengapa, ya, mereka bersikap begitu terhadapku? Apa, ya, salahku terhadap mereka?" pikirnya. Pada satu kesempatan, landak mendekat ke tikus hutan yang tengah asyik menikmati makan siangnya di bawah pohon. Ia bermaksud menanyakan perihal sikap dan perlakuan yang diterimanya selama ini. Tapi, begitu tikus hutan itu tahu bahwa landak mendekat, ia pun langsung ambil langkah seribu. Lari secepat-cepatnya menjauhi landak. Meninggalkan makan siangnya yang baru beberapa kunyah dinikmatinya.

"Aneh..." kata landak. Ia tak putus asa. "aku harus mengetahui sebab mengapa mereka manjauhiku. Harus! Aku harus mengetahuinya!" tekadnya. Dilihatnya tupai yang tengah turun dari pohon. Ia segera mendekatinya. "Oh, itu," jawab tupai. "Mmm... setahuku sih, tapi maaf jangan marah ya, mereka tak ingin dekat denganmu karena menurut mereka kamu itu aneh dan menakutkan."

"Masak, sih?" "Iya, terutama bulu-bulumu yang tajam itu!" "Terus kamu sendiri melihatku seperti apa?" landak penasaran. "Kalau aku, sih, biasa saja," jawab tupai itu. "Buktinya, aku tak lari darimu." Landak diam. Ia manggut-manggut, "Iya, ya," katanya. "Benar katamu. Berarti kita bisa berteman, kan?"

"Mengapa tidak? kan, kita sama-sama makhluk tuhan." Penerimaan yang tulus dari tupai membuat landak lega. Rupanya masih ada yang mau berteman dengan dirinya. "Tenang saja! Suatu saat sikap mereka akan berubah terhadapmu!" yakin tupai.

"Terima kasih, kawan!" Landak pun kini lebih semangat menjalani hidup. Ia tak khawatir lagi. Ia yakin suatu saat sikap teman-temannya pasti akan berubah. Yang penting baginya adalah selalu berbuat baik kepada siapapun.

Ketika kawasan tempat tinggal landak dan kawan-kawannya diserang macan kumbang, semua menggigil ketakutan. Tak ada yang berani keluar. Bahkan sebagian melarikan diri. Menyadari kondisi gawat itu, landak sengaja tidak ikut lari menyelamatkan diri. Ia justru terpanggil untuk menolong teman-temannya. "Kalau tak ada yang berani melawan macan kumbang itu, selanjutnya ia pasti akan selalu kesini. Aku harus mengusirnya dari sini!" tekadnya.

Landak menghadang laju macan kumbang, sementara kawan-kawannya dengan harap-harap cemas mengawasinya dari jauh. Lantas terjadilah pertarungan sengit, pertarungan hidup dan mati. Landak sepertinya sudah siap mengorbankan nyawanya sendiri. Ia terluka cukup parah. Tapi, si macan kumbang terluka lebih parah lagi. Macan kumbang itu akhirnya menyerah, dan bergegas menjauh dari landak.

"Ampuun! Ampuuun!" teriaknya. Landak tak mengejarnya karena ia sendiri terlihat sangat letih. Ia ambruk. Teman-temannya mendekatinya dan segera memberinya pertolongan. "Ternyata ia tak seburuk dan sejahat yang kita kira, ya?" kata kancil. "meski tampilannya angker dengan bulu-bulunya yang tajam itu, ternyata ia berhati baik."

Akhirnya penilaian mereka terhadap landak pun berubah. Mereka mau berteman dengan landak. Bahkan sangat menghormatinya.

TAMAT

Hikmah cerita : Jangan menilai orang hanya dari tampilan luarnya. Terkadang yang kita anggap jahat, justru ternyata oragng baik, dan sebaliknya.

Fakta unik : 
Landak adalah binatang pengerat, gemar makan dedaunan, akar dan kulit pohon
Bayi landak lahir dengan duri yang lunak, dan mengeras dalam waktu satu jam setelah ia lahir.
Terdapat 11 jenis landak ukuran besar di dunia, tersebar di Afrika, Asia, dan Eropa. Sementara sisanya, landak yang lebih kecil, terdapat di Amerika Utara

Pengarang naskah : BIlif Abduh

Sabtu, 18 Februari 2017

Ubur-Ubur Dan Ikan Kaca


Pagi terlihat cerah. Matahari tampak perkasa, sinarnya menembus hingga ke dasar salah satu kawasan diperairan utara Jawa. Dalam waktu yang tak lama, geliat kehidupan mulai terlihat.

"La.. la.. la..la.. la..," seekor ubur-ubur dengan riang gembira berenang diantara terumbu karang dan alga. "Hmmm... benar-benar hari yang menyenangkan!" katanya. Ubur-ubur itu terus berenang kesana-kemari. Ia begitu takjub dengan alga ungu yang sepertinya baru dilihatnya. "Wah, cantiknya!" Ubur-ubur itu berhenti, mengamai alga itu dengans eksama. Ia benar-benar terpesona.

Tapa disadarinya, serombongan ikan kaca muncul dari balik karang besar, berenang mendekatinya. "hei kawan-kawan, lihat itu, sisapa ya, dia?" lata salah satu dari mereka. "kok rasanya kita belum pernah melihatnya sebelumnya, ya?" "Iya, ya, kok rasanya kita belum pernah melihatnya," sambut teman-temannya. "Yuk, kita dekati!".

Tiba-tiba... Arrrggghhh... grrr... Seekor kakap merah besar dengan didi-didinya yang tajam melintas dihadapan mereka. "Cepaaat... Sembunyiii...!" teriak salah satu dari mereka. Jantung mereka berpacu dngan cepat. "Aahhh, syukurlah kita selamat, kawan-kawan!" "Tapi, bagaimana dengan rencana kita tadi?" tanya ikan kaca kecil yang paling lincah. "Rencana apa?" jawab ikan kaca yang paling tua.

"Lho, kok lupa? kita kan mau tau elbih lanjut, siapa makhluk misterius tadi." "Oh, iya, kok aku jadi lupa. Bagaimana kawan-kawan, apa kita berani kesana?" "Siapa takut?" jawab mereka kompak. Rupanya mereka begitu penasaran dengan sosok ubur-ubur yang baru pertama kali mereka temui.

Bergerak beriringan, dalam formasi yang rapat seolah ingin menjaga satu sama lain dari sergapan pemangsa, ikan-ikan kaca itu kini bisa melihat dengan mata kepala sendiri secara lebih jelas sosok yang mereka anggap misterius tadi. "Hai, kamu siapa?" lata ikan kaca kecil. "kok, kami baru lihat kamu disini?" Ubur-ubur itu menoleh , dan ia cukup kaget ada banyak ikan kaca disekelilingnya. "Hai, kenalkan, aku ubur-ubur," katanya.

"Ubur-ubur?" ikan-ikan kaca itu saling pandang satu sama lain. Bagi mereka, itu nama yang asing, nama yang baru pertama kali mereka dengar. "Kok, nama kamu aneh sekali, sih?" tanya ikan kaca tua. "Aneh?" ubur-ubur mengerutkan keningnya. "Mungkin karena kalian baru pertama kali ini mendengar namaku. Lagi pula kalian bertemu aku baru pertama kali ini, kan?"

Ikan-ikan kaca itu diam. Lagi-lagi mereka saling pandang satu sama lain. Tiba-tiba ikan kaca tua tertawa terbahak-bahak, "Hahahaha!" dan kemudian teman-temannya juga ikut tertawa, termasuk ikan kaca kecil. "Hahahaha!" "Kenapa tertawa begitu?" tanya ubur-ubur, penasaran. "Ada yang aneh denganku?" "Ya, tentu saja," kata ikan kaca tua, terus terang. "Benar kan, teman-teman?" "Yaa," jawab teman-temannya.

"Kamu ini sama sekali tak mirip dengan keluarga besar kami, para ikan," lanjut ikan kaca tua. "Tubuhmu bening, transparan, dan berumbai-rumbai pula". "kamu seperti badut, ubur-ubur!" timpal ikan kaca kecil. "Hahahaha!" dan semuanya tertawa, mengejek ubur-ubur itu.

Ikna kaca tua lebih mendekat ke teman-temannya, "Sssttt...," bisiknya. "Bagaimana kalau kita kerjain dia? Dia tak akan bisa apa-apa. YUk kita tarik rumbai-rumbai ditubuhnya!" Mereka sepempak lebih mendekat, mengerubungi ubur-ubbur itu. "jangan! Jangan dekat-dekat aku!" teriak ubur-ubur sambil bergerak menjauh dari kawanan ikan kaca itu.

"Hahahaha! Kamu takut, ya?" Kawanan ikan kaca tu terus mengejar ubur-ubur tersebut. Ketika mereka menyentuh rumbai ubur-ubur itu, tiba-tiba... Slllrrrttt... Slappp... ikan-ikan kaca itu terlempar. MEreka merasakan sengatan listrik yang sangat panas. Mereka sempoyoongan. Beberapa diantaranya bahkan pingsan, tak sadarkan diri.

"Maaf, maafkan aku," Kata ubur-ubur. Ikan kaca tua dan teman-temannya baru menyadari bahwa ubur-ubur yang kelihatannya lemah itu ternyata sangat berbahaya. Akhirnya mereka pun tak pernah lagi mengganggi ubur-ubur.

"Dia luar biasa! SEngatannya dahsyat!" kata ikan kaca yang lebih tua, diiyakan oleh teman-temannya.

TAMAT

Hikmah Cerita : Jangan pernah menganggap remeh orang lain, Kadang-kadang yang kita anggap remeh itu justru memiliki kekuatan yang luar biasa yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Fakta Unik :
Ubur-ubur sering disebut juga sebagi medusa atau ikan jelly. Hal ini karena tubuh ubur-ubur bening dan transaparan.
Sengatan ubur--ubur dari tentakel dan rumbai-rumbai kakinya memberikan efek gatal dan panas. Dampaknya seperti luka bakar pada kulit.
Ubur-ubur kapal perang Portugis adalah jenis yang paling berbahaya, sengatannya bisa menyebabkan sesak napas dan kematian.

Pengarang naskah : Bilif Abduh
Dongeng Binatang/Fabel, Dongeng Hewan Laut,

Kamis, 16 Februari 2017

Sammy, Si Semut Pemalas


Berbaris rapi memanjang, satu-satu, masing-masing membawa beban, jika tidak kuat, sejumput makanan itu mereka bahwa secara berkelompok. 

Kawanan semut itu melintasi kawasan hutan sambil bernyanyi dengan riang gembira. "Tralala... lala.. lala... trala... lala... lala... horeee!" Dengan bernyanyi-nyanyi mereka berharap bisa melupakan kekhawatiran akan ancaman pemangsa ditengah jalan, mislanya kadanl dan tringgiling. Mereka terus bekerja sambil bernyanyi, berharap bisa selamat sampai sarang mereka."Ayooo! Jangan melambaaat!" Salah satu semut menyemangati. "Siaaap!" sahut yang lain. 

Musim dingin yang kemungkinan datang lebih cepat kali ini mengharuskan mereak bekerja lebih cekatan. Bekerja lebih cepat. Itu jika mereka tidak ingin mati kelaparan selama tiga bulan mendatang.. Persediaan makanan digudang mereka sudah hampir habis.

Setiap hari, selama hampir seminggu mereka bekerja memindahkan makanan apapun yang mereka jumpai kesarang mereka. Selama itu pula tak ada yang berleha-leha dan bermalas-malasan, kecuali Sammy, seekor semut bertubuh tambun dengan pipi yang tembem. "Hai Sammy," sapa seekor kumbang. "apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu tidak ikut bergabung dengan mereka?" "Ah, buat apa? bikin capek saja!" "Lho," si kumbang kaget dengan jawaban Sammy. "Bukannya kamu bangsa semut sudah seharusnya bergotong royong? bekerja bersama? Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing? kamu ini kok aneh?" "Ah sudahlah! Kamu jangan ikut campur!" Sammy tersinggung. "Wuaahhh... aku ngantuk, aku mau tidur, ah! Sudah, kamu pergi sana!"

Kumbang tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Baru kali ini ada semut yang malas seperti si Sammy itu. "Bisa-bisanya dia tidur setelah makan kekenyangan, sementara teman-temannya sibuk bekerja." "Kumbaaaang! Mengapa masih disitu? Sudah, pergi sana!" Hardik Sammy. Kumbang pun buru-buru terbang meninggalkan tempat itu.

"Tuh, liaaat!" teriak seekor semut pada temannya. "Itu kan Sammy! Mengapa dia tidur nyenyak seperti itu, padahal kita semua bekerja keras, bermandi peluh? Keterlaluan sekali anak itu!" "Sudahlah, tak perlu hiraukan dia. Mari kita kembali bekerja". "Ah, enak saja! jawab semut itu. "Ini tak bisa dibiarkan! Kelakuan Sammy harus diketahui semua semut!"

Semut itupun menyebarkan informasi kepada yang lain tentang kemalasan Sammy, tentang keengganannya bergotong royong. "Ah, anak itu ternyata tidak juga berubah," komentar semut setengah baya. "Iya, aku juga heran dengan Ssammy. Mengapa dia begitu malas, ya?" kata yang lain. Kontan saja setiap semut jengkel dengan sikap malas Sammy. "Dengan apa lagi kita harus mengingatkannya?" Kata semut setengah baya.

"Sudahlah, biarkan saja dia begitu! Anggap saja dia tak pernah ada. Tak perlu kita menegurnya," usul temannya. Salju pertama mulai turun. Udara begitu dingin diluar. Dalam sarangs emut, jatah makanan mulai dibagikan. Sammy menunggu. Tapi sampai begitu lama, namanya tak juga disebut. Setiap semut tak ada yang mengacuhkan kehadirannya.

"Kalian benar-benar jahat!" Protesnya. "Ada apa dengan kalian? Mengapa kalian memerlakukan aku seperti ini?" Sammy mulai menangis. Ia sangat kelaparan. "Mana? Mana jatahku?" Semua semut diam tak memperdulikan si Sammy. Semua menikmati jatah masing-masing dengan lahap. Sementara itu, Sammy terus menangis, ia menjerit-jerit, memohon diberi jatah makanan.

Sammy mulai lemas, badannya lunglai. Ia sempoyongan dan terjatuh. Seekor semut setengah baya mendekatinya, lalu menyuapkan sebagian jatah makanannya ke mulut Sammy. "Cepat makan! Setelah ini dan seterusnya, perbaikilah dirimu! Jangan malas lagi! Ubahlah sikapmu! Setelah itu, perhatikannlah, mereka akan mebgubah sikap mereka terhadapmu!"

Sejak peristiwa itu, Sammy tak lagi jadi semut pemalas. Ia rajin bekerja bersama teman-temannya. Sikap teman-temannya pun mulai berubah terhadapnya.

TAMAT

Hikmah Cerita: 
Jangan malas, karena tak ada satu pun makhluk Tuhan yang suka terhadap orang malas. Perbaiki dirimu terlebih dahulu, niscaya orang lain akan bersikap baik terhadapmu.

Fakta  Unik :
Semut hidup secara berkoloni, dan mereka membpunyai seekor ratu yang memimpin mereka
Dalam koloni semut, ada yang disebut semut "pelopor", tugasnya mencari sumber makanan. Semut ini tak pernah pulang sebelum menemukan sumber makanan.
Dalam barisan yang panjang, semut berjalan dengan meninggalkan bau yang khas. Bau inilah yang menjadi petunjuk semut-semut dibelakangnya agar tak tersesat.

Pengarang naskah : Bilif Abduh

Semut Pemalas, Dongeng Si Semut 

Selasa, 14 Februari 2017

Musang Dan Buah Kopi

Di luar, titik gerimis sepertinya masih belum mau berhenti. Hujan yang turun sejak siang tadi membuat sekelompok musang meringkuk dalam tempat persembunyian mereka. Masing-masing hanya diam, saling pandang satu sama lain. Tak tahu apa yang harus mereka lakukan dalam keadaan seperti itu. MEreka terlihat lapar.

"ini sungguh tidak adil!" seekor musang dengan totol-totol putih melompat ke tengah-tengah kawannya. "Kita tidak bisa seperti ini terus menerus! Apa yang mereka putuskan itu sungguh merugikan kita. Akan kita kasih makan apa anak-anak kita?"

"Tapi, siapa yang berani menentang keputusan si Hitam, beruang besar tersebut?" musang abu-abu yang dari tadi diam mulai angkat bicara. "Bukankah itu adalah keputusannya yang disetujui semua penghuni hutan ini?" "Aku tahu itu! Dan inilah letak ketidakadilan si Hitam! Mengapa ketika yang lain diberi jatah pohon buah yang enak, kita justru dilarang? Bagian kita hanya pohon dengan buah yang hanya seukuran ibu jari kita."

"Memang sih tidak adil. Tapi apa kita berani melawannya? Apa kamu sendiri berani menggugat keputusannya itu?" musang abu-abu mencoba mengusik dan memanas-manasi musang totol putih. "Kalau kita bersatu, mengapa harus takut? Ini bukan masalah pribadi aku, tapi persoalan kita bersama bangsa musang! Kita harus bersatu menentang si Hitam!"

"Ya, betul itu!" timpal musang abu-abu. "Aku sangat setuju denganmu. Tapi, bagaimana dengan teman-teman kita yang lain? Sungguhkah mereka berani menentang si Hitam?" "jangan khawatir! Aku bisa kumpulkan mereka. Aku yakin mereka semua akan mendukung rencana kita ini." Diluar, gerimis belum juga reda, seolah-olah belum bosan membasahi bumi yang sudah basah kuyup.

Esoknya, di hadapan ratusan musang yang berhasil dikumpulkannya, musang totol putih berpidato penuh semangat. BErapi-api laksana seorang jenderal yang menyemangati pasukannya yang akan maju ke medan laga."Yaaa! Kami siap maju! Demi harga diri kita, kami semua siap berkorban jiwa raga dalam menghadapi si Hitam!" pekik ratusan musang.

Beberapa hari setelah rapatakbar itu, setiap malam tampak ratusan musang yang berlatih beladiri. Sepertinya mereka benar-benar mempersiapkan segalanya. Jika gugatan pada si Hitam tak digubris, mereka siap melancarkan serangan. Tak peduli menang atau kalah nantinya. Tang penting mereka siap menunjukkan bahwa bangsa musang tak boleh direndahkan begitu saja.

"Ayoo! berlatih lebih kerasas!" teriak musang totol putih, yang ternyata telah didaulat sebagai pemimpin. Seekor kelelawar terbang rendah, mendekat ke kawanan musang yang tengah serius berlatih perang. "Hai, kawanku," katanya pada musang totol putih. "Wah, kayaknya siap nih menantang si Hitam?"

Musang totol putih tak acuh pada kelelawar itu. Dia berjalan keliling, mengamati kawan-kawan dan anak buahnya yang tengah berlatih. KElelawar terbang mendekatinya, hinggap disebuah dahan. "Hmm... rasanya memang wajar, ya, kalian membela diri. MEnggugat si Hitam itu. Tapi menurutku sih apa yang hendak kalian lakukan ini hanya akan menyebabkan perang besar di hutan. Bisa saja kalian yang kalah. Tapi sejauh yang aku tahu, tak ada pemenang sejati dalam perkelahian atau peperangan. kalah jadi abu, menang jadi arang."

"Jangan banyak bicara!" Musang totol putih naik pitam. "Jangan turut campur urusan kami! Apa yang sebenarnya kamu inginkan?" Kelelawar tersenyum menghadapi kemarahan musang totol putih. "Sungguh, aku tidak punya maksud apa-apa. Aku hanya ingin memberi tahu, batalkan saja niat kalian itu. Tak ada gunanya bersitegang dan berperang. Kalau saja kalian tahu betapa nikmatnya buah kalian yang menjadi jatah kalian itu. Kalian pasti akan senang dan berterima kasih pada si HItam."

"Benarkah? Memangs ebenarnya pohon apa itu? Apa kamu pernah merasakannya? "Ya, aku sudah pernah merasakannya, dan enak sekali. Itu adalah pohon kopi. Cobalah dulu! Maaf, aku buru-buru," pamit kelelawar, lalu terbang meninggalkan musang totol putih yang masih bengong.

"Hmm... benar sekali yang dikatakn kelelawar itu. Buah pohon ini ternyata sangat enak," ujar musang totol putih setelah mencicipi buah kopi. Musang-musang lainnya pun memakan tanaman kopi yang menjadi jatah mereka itu dengan lahap. "Rasanya kita patut berpesta untuk kenikmatan buah kopi ini," kata musang totol putih. "mulai hari ini, kita lupakan saja rencana kita untuk menggugat si Hitam, setujuuu?" 
"Setuju...!" jawab yang lain serempak.

Tak ada perang, tak ada pertempuran. Keadaan dihutan tetap damai seperti sedia kala.

TAMAT

Hikmah cerita : Jangan mengedepankan emosi dan kekerasan dalam upaya menyelesaikan persoalan. Terkadang apa yang kita anggap tak baik ternyata sangat bermanfaat dan menyenangkan bagi kita.

Fakta Unik :
Musang (luwak dalam bahasa jawa) adalah binatang yang aktif pada malam hari (nokturnal)
Musang gemar sekali makan buah kopi di pohonnya langsung.
Kopi luwak adalah kopi asli indonesia, yang harganya paling mahal sedunia. Dinamakan kopi luwak karena biji kopinya merupakan sisa dari pencernaan luwak atau musang.

Pengarang naskah : Bilif Abduh

Senin, 13 Februari 2017

Anoa Dan Kerbau Liar


Segerombolan kerbau liar berkumpul ditepian sungai dipinggir hutan. Dari raut wajah mereka terlihat ada sesuatu yang tengah mengsik kawanan itu. Ketua mereka, seekor kerbau yang paling besar dengan tanduk runcing pajang dan kulit hitam legam, mendengus keras. Geram.

"Tidak! ini tidak bisa dibiarkan begitu saja," katanya. "Mengapa justru kita yang jadi sasaran kemarahan petani itu? kita harus bisa menemukan pelaku perusakan  itu. Aku yakin bukan dari kalangan kita."

"Tapi, siapa lagi kalau bukan anggota dari kita sendiri?" tanya kerbau muda. "Aku belum tahu, tapi aku yakin sebentar lagi kita bisa mengetahuinya."

Lalu kedua kerbau itu memerintahkan anak buahnya untuk selalu waspada. Memasang mata dan telinga agar pelaku perusakan yang mengatasnamakan mereka itu cepat terungkap dan tertangkap.

Beberapa minggu terakhir ini, kerbau-kerbau liar itu diusir dan dicambuk keras oleh para petani. Mereka dianggap sebagai pengganggu. Banyak perladangan yang siap panen menjadi rusak, dan para petani menganggap bahwa pel;akunya adalah para kerbau. Padahal, biasanya para petani itu begitu baik kepada mereka. 

"Kita harus buktikan bahwa bukan kita pelakunya!" kata ketua kerbau liar.

Pada suatu senja yang temaram, menjelang malam, seekor kerbau liar muda tergopoh-gopoh menghadap ketuanya. "Pak ketua," katanya. "Rasanya sebentar lagi kita akan terbebas dari kemarahan para petani itu." "Apa maksudmu? Apa kamu berhasil menemukan pelaku perusakan itu?" "ya, benar. TErnyata dugaan anda selama ini tak meleset. Ternyata dia itu sangat mirip dengan kita. Hanya lebih kecil perawakannya."

Ketua kerbau liar sangat penasaran dengan penjelsan kerbau muda. "Baiklah, agar lebih jelas, kita pastikan saja besok pagi. Aku harap semua bersiap besok. Kita tangkap dia!"

Dari balik rimbun pepohonan, kawanan kerbau liar itu mengintip. Pada suatu kesempatan, mereka bergerak cepat mengepung hewan misterius itu. "oh, ternyata kamu pelakunya, ya," kata ketua kerbau liar. "Memang ya, kamu mirip kami. Wajar jika petani itu menuduh kami pelakunya. Mengira kamu anak kami. Sebenarnya, kamu ini siapa?"

Binantang yang mirip kerbau itu celingukan, ia kikuk. "Aku anoa," katanya. "Maafkan aku, aku tak pernah bermaksud menyulitkan kalian. AKu hanya mencari makan." "iya, aku tahu itu. Tapi mengapa sampai sedemikian parah kerusakan yang kamu tinggalkan?"
"benarkah?"
"Lihat saja, ladang-ladang itu rusak semua karena perbuatanmu. Kadihan kan, para petani, mereka jadi merugi."
Anoa itu menunduk, merasa bersalah. "Aku harap kamu tak melakukannya lagi. Kami tak mau lagi jadi sasaran kemarahan para petani. Dikiranya kami yang merusak ladang mereka. Mulai sekarang kami minta kami jangan turun kesini."
"Maksudnya apa?" tanya anoa. "Maksudnya, kami berharap kamu dan teman-temanmu merasa cukup dengan apa yang sudah kalian miliki diatas bukit sana. Bukankah makanan disana sudah cukup melimpah?" "iya sih, tapi...,"
"Tak ada tapi-tapian," putus ketua kerbau. "Anggaplah ini perjanjian! atau kamu kami serahkan kepada para petani itu."

Anoa itu diam sesaat. "Baiklah kalau begitu. aku terima perjanjian ini. Tapi, aku harap kamu tidak menyerahkanku kepada para petani."  "Jangan khawatir. AKu pegang teguh perjanjian ini," balas ketua kerbau.

Sejak itulah Anoa tak pernah lagi turun dari bukit. Dan jika tak sengaja bertemu dengan orang, dia segera ambil langkah seribu, melarikan diri. Takut kalau-kalau orang itu utusan para petani yang akan menangkapnya.

TAMAT

Hikmah cerita : Cukuplah dengan apa yang sudah kita punyai. Jangan pernah mengambil, apalagi merusak barang milik orang lain.

Fakta Unik : 
Anoa adalah binantang khas Sulawesi
Sekilas Anoa mirip kerbau, tapi perawaknnya lebih kecil
Ada dua jenis Anoa, Anoa gunung dan Anoa dataran rendah
"

Pengarang naskah : Bilif Abduh

Perdamaian Kunang-Kunang Dan Jangkrik

D ulu, jika malam tiba, padang rerumputan yang diselingi aliran sungai itu begitu meriah. Padang itu memamerkan harmonisasi suara dan gemerl...